Senin, 24 April 2017

Kader PMII Harus Lestarikan Tradisi Keagamaan yang Dilakukan Para Ulama

Kader PMII Harus Lestarikan Tradisi Keagamaan yang Dilakukan Para Ulama

Pariaman--Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus melestarikan tradisi keagamaan yang selama ini sudah dilakukan oleh para ulama. Tradisi yang dilakukan sesuai dengan pendekatan keagamaan yang berpahamkan Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja).
    Ketua Cabang PMII Kota Pariaman Masrizal mengungkapkan hal itu pada pembukaan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) PMII ke-18, Komisariat Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syekh Burhanuddin (STIT SB) Kamis lalu di sekretariatnya, Kampung Baru, Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman. Mabapa berlangsung hingga Jumat (21/4) diikuti sekitar 20 orang mahasiswa.
    Menurut Masrizal, PMII yang berpahamkan Islam Aswaja diminta untuk menjalankan pendekatan keagamaan yang sudah digariskan para ulama pendahulu. "PMII  dengan sikap kemasyarakatan tawasuth (jalan tengah), i’tidal (adil), tasamuh (menjunjung tinggi perbedaan), tawazun (seimbang) dan amar makruf nahi mungkar selalu hadir di tengah masyarakata," kata Masrizal, alumni STIE Sumbar Kota Pariaman ini.
    Dengan sikap tersebut, kata Masrizal, PMII selalu menjaga toleransi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Mengutip apa yang disampaikan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj pada Harlah PMII beberapa hari lalu di Jakarta, kita sebagai PMII harus selalu menjaga sikap toleransi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Karena Indonesia memiliki banyak suku, agama, ras dan golongan. "Ternyata banyak tokoh-tokoh di dunia belajar ke Indonesia bagaimana umat Islam mampu menjaga toleransi," kata Masrizal.
    Dikatakan, kader PMII pun dapat menjalankan Aswaja dengan baik di tengah kehidupannya. Sehingga kader PMII mampu menjadi contoh bagi generasi muda lainnya.
    Ketua II PKC PMII Sumbar Zalkairi dalam sambutan menegaskan, kader PMII diharapkan memiliki analisis yang tajam terhadap dinamika kampus dan masyarakat di sekitarnya. PMII sebagai organisasi mahasiswa, bukan hanya tempat berkumpul-kumpul semata. Tapi yang lebih penting adalah mampu menjadi intelektual yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan masyarakatnya.
    Penerima mandat PMII Kota Pariaman Armaidi Tanjung yang tampil sebagai pemateri pertama dalam Mapaba tersebut menegaskan, bahwa mahasiswa harusnya menjadi pelopor di masyarakatnya masing-masing. Dengan kelebihan yang dimiliki mahasiswa, bagaimana bisa menjadi pelopor di tengah banyaknya persoalan.
    "Untuk menjadi pelopor membangun masyarakat sesuai dengan disiplin ilmu dan keahlian yang dimilikinya, mahasiswa dituntut kreatif, inovatif, kerja keras, rajin, tekun, disiplin dan pantang menyerah. Tanpa sikap tersebut, jangan harap mahasiswa mampu jadi pelopor di masyarakat," tegas Armaidi Tanjung. (501)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar