Dengan Biaya Sekitar Rp1,5 miliar
World Vision Indonesia Bangun Kembali SDN 03 VII Koto Sungai Sariak
VII Koto--Melakukan aksi kemanusian, terutama ditengah masyarakat Padang Pariaman yang baru saja di luluhlantakkan gempa akhir September tahun lalu, bagi World Vision Indonesia merupakan tugas mulya, sekaligus tanggungjawab moral. Berangkat dari realita itulah, lembaga yang berdiri di 85 negara didunia ini memfokuskan bantuan tentang kelangsungan masa depan anak-anak.
Jumat (26/3) kemarin, World Vision Indonesia membangun kembali gedung Sekolah Dasar (SD) Negeri 03 VII Koto Sungai sariak, yang terletak di Korong Simpang Kampuang Tangah, Kenagarian Lurah Ampalu, Padang Pariaman. Prosesi peletakan batu petama sekolah tersebut cukup mendapat sambutan dari masyarakat Lurah Ampalu. Betapa tidak, sekolah yang hancur dan rata dengan tanah itu memang harus dibangun kembali. Kehadiran lembaga tersebut, merupakan jawaban dari kegelisahan masyarakat, terutama anak sekolah, yang sejak gempa hingga kini masih belajar diruangan yang serba darurat.
National Director World Vision Indonesia, Trihardi Saptoadi mengaku senang dan bangga, atas diterimanya lembaga yang dia pimpin itu, untuk ikut bersama masyarakat nantinya dalam menyelesaikan pembangunan SD yang hancur tersebut. "Kita semua, barangkali mempunyai komitmen yang sama terhadap kemajuan dan masa depan anak-anak yang kini tengah dididik di SD ini. World Vision memang memfokuskan persoalan masa depan anak-anak itu sendiri. Sebab, pascagempa yang paling menderita itu adalah anak-anak," katanya.
Menurut Trihardi, pembangunan tersebut mencapai 6 lokal dan ditambah 2 ruangan untuk guru dan pustaka. "Awal April ini pembangunan itu sudah bisa dimulai. Diharapkan, Agustus atau September bangunan ini telah selesai dengan baik, lengkap dengan mobilernya," ujar Trihardi.
"Agar trauma gempa tidak lagi menghatui anak-anak yang merupakan kader bangsa ini, maka kita sengaja bangunan ini dibuat dengan konstruksi yang ramah bencana atau tahan terhadap goncangan gempa. Untuk itulah, dukungan Pemkab Padang Pariaman, masyarakat Lurah Ampalu, khususnya yang ada di Baranganan ini, sangat kita harapkan. Saat pekerjaan dimulai, bagaimana masyarakat ikut mengawasi jalannya pembangunan ini," kata Trihardi yang didampingi perwakilan World Vision Padang, Yacobus Runtuwene.
Momen ini, lanjut Trihardi, bagi World Vision, merupakan kesempatan yang sangat luar biasa. Setelah sukses melakukan kerjasama yang baik dengan Pemkab, pilihanpun dijatuhkan pada SDN 03 VII Koto Sungai Sariak ini. Kemudian, bagaiman bangunan fasilitas umum kedepan itu, terutama sekolah, yang jauh lebih baik lagi. "Sampai selesai bangunan ini akan menelan biaya sekitar Rp1,5 miliar, yang nantinya akan dikerjakan langsung oleh kontraktor yang ada di Sumbar ini. hal itu kita lakukan, mengingat para tukang dan kontraktor profesional di daerah ini cukup banyak, dan perlu diberdayakan," katanya.
Sementara Sekdakab Padang Pariaman, H. Yuen Karnova, S.E yang mewakili bupati Muslim Kasim menyampaikan terima kasih pemerintah dan masyarakat daerah itu, pada World Vision, yang telah ikut merasakan duka yang dialami masyarakat Padang Pariaman. "Ini merupakan satu diantara hikmah musibah yang datang dan ikut menghacurkan seluruh sendi-sendi kehidupan kita. Betapa banyak yang datang dari dunia kedaerah ini, sekaligus ikut memberikan bantuan," katanya.
"Bagi Pemkab dan masyarakat, untuk bisa membangun kembali sekolah yang hancur sebanyak 300 unit lebih dan 2.000 lebih lokal yang porakporanda butuh waktu 20 tahun lebih. Namun, beban yang sangat berat itu, terus terobati, dengan adanya bantuan dari berbagai pihak, termasuk World Vision Indonesia, dalam melihat arti penting sarana sekolah yang nyaman," ujar Yuen Karnova lagi.
Yuen Karnova melihat bantuan bangunan yang diberikan lembaga tersebut sungguh sangat luar biasa. Betapa tidak, bantuan yang sangat dibutuhkan itu, datang dengan sangat ikhlas. "Semoga bantuan ini bermanfaat bagi kita semua, dalam memajukan anak-anak, yang merupakan kader bangsa. Sementara, yang memberikan bantuan, mendapatkan ganjaran yang setimpal dari Tuhan. Kita ingin, seluruh sekolah yang rusak bisa secepatnya dibangun kembali. Sebab, sampai saat ini, akibat gempa masih banyak anak-anak yang besekolah yang hanya pakai sandal. Orangtuanya tidak mampu lagi membangun pendidikan anak-anaknya. Seperti yang ditemukan di sejumlah perkampungan. Sudahlah sekolah hancur, datang kesekolah juga dengan fasilitas yang tidak layak," ujar Yuen Karnova. (dam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar