Senin, 04 Januari 2016

Tradisi Ziarah Jelang Ramadhan Warnai Padang Pariaman

Tradisi Ziarah Jelang Ramadhan Warnai Padang Pariaman

Ulakan--Beberapa hari menjelang masuknya bulan Ramadhan, ratusan masyarakat, terutama warga Syathariyah dari berbagai daerah di Sumatra Barat mendatangi makam Syekh Burhanuddin Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Padang Pariaman. Masyarakat berkumpul bersama, melakukan hajatan apa yang menjadi tradisinya dari guru mereka. Masyarakat datang silih berganti. Disamping mengunjungi makam Syekh Burhanuddin, mereka juga mendatangi sejumlah makam ulama lainnya yang ada di daerah yang telah luluh-lantak akibat bencana akhir September tahun lalu itu.
    Memang, disamping tradisi basyafa sebagai ajang ziarah bagi masyarakat Islam tradisional itu, dua bulan menjelang datangnya Ramadhan juga sengaja mendatangi makam dari guru-guru mereka. Hal itu merupakan bagian tradisi jelang Ramadhan yang telah lama berkembang di Padang Pariaman. Tradisi ziarah yang merupakan tardisi surau, adalah bagian kelompok yang terbesar didaerah ini. Hingga kini, wadah tempat mencetak kader ulama tumbuh dengan dinamikanya. Dan tidak salah, kelompok ini merupakan kekuatan daerah yang harus terus dirawat dari kepunahan.
    Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Ulakan Tapakis, Ali Nurdin M. Nur melihat tradisi demikian, merupakan bagian kekuatan masyarakat Islam Ahlussunnah wal jamaah. Kelompok itu tidak bisa dipungkiri adalah bagian yang terbesar di ranah Minang ini. "Disamping berziarah, mengingat kembali jasa-jasa yang pernah ditinggalkan gurunya, juga zikir, salat berjamaah dan lain sebagainya yang berhubungan dengan tradisi dari kaum thariqat itu sendiri," katanya kemarin di Ulakan.
    Menurutnya, kegiatan itu tidak seramai sewaktu musim basyafa. Sebab, masyarakat datang paling satu dua mobil, selesai acaranya mereka pulang lagi. Besoknya datang lagi kelompok lainnya, yang aliran dan aqidahnya sama dalam masalah demikian. "Bagi masyarakat thariqat, ziarah kubur, terutama kuburan ulama-ulama besar, adalah bagian yang sangat penting, setelah menziarahi makam orangtuanya. Apalagi, Syekh Burhanuddin, pertalian ilmu yang diajarkannya menyambung dengan seluruh ulama di ranah Minang ini," katanya. (dam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar