H. Zubir Tuanku Kuniang Ungkapkan
Pasangan Yobana-Ril Calon Terbaik Dari yang Baik
Padang Pariaman--Luar biasa. Itu kesan yang terlihat di pondok pesantren Luhur Surau Mato Aie, Kenagarian Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung Rabu (9/6) lalu. Tidak kurang dari 400 ulama dari berbagai nagari yang ada di Padang Pariaman, siang itu berkumpul bersama di pesantren yang sangat terkenal itu. Mereka datang atas undangan maha guru mereka, H. Zubir Tuanku Kuniang, H. Ashabal Khairi Tuanku Mudo dan H. Anas Tuanku Sinaro. Tiga ulama dimaksud merupakan barometer ulama yang ada didaerah yang baru saja mengalami musibah gempa akhir September tahun lalu ini. Kalaulah ulama besar yang tiga tersebut memberikan fatwa ditengah masyarakat, baik yang berhubungan dengan keagamaan, apalagi yang berhubungan dengan kehidupan sosial politik, selalu menjadi pedoman bagi banyak ulama, terutama ulama yang bertalian langsung dengan Surau Mato Aie dimaksud.
Siang itu, usai salat Zuhur para ulama tua dan muda datang dengan mengendarai berbagai kendaraan. Menghadiri undangan guru bagi ulama yang dulunya adalah seorang santri merupakan sebuah kewajiban. Para ulama dimaksud akan patuh dan tunduk terhadap apa-apa yang akan disampaikan selama pertemuan oleh gurunya. Bagi pasangan Yobana-Ril, kehadiran ulama tersebut merupakan sebuah dukungan moral yang sangat luar biasa, terhadap kesuksesan dalam memenangkan pertarungan nantinya pada 30 Juni yang sudah diambang pintu. Sebab, setiap kali momen pemilihan, baik Pileg maupun Pilpres dan Pilkada, Surau Mato Aie, selalu didatangi banyak tokoh yang akan maju, dengan niat untuk minta dukungan politik dari ulama dan jamaahnya. Banyak calon pemimpin dulunya sebelum terpilih, terlebih dulu yang bersangkutan sengaja mendatangi ulama yang tiga tersebut.
Pertemuan seluruh ulama keluarga besar Surau Mato Aie dengan Yobana-Ril, merupakan sejarah penting yang tidak boleh dilupakan bagi pasangan yang dijagokan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Partai Persatuan Pembangunan (PPP), jika gabak jadi hujan, istilah yang selalu dilontarkan Yobana Samial sang calon bupati tersebut disetiap kali pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat. Betapa tidak, dukungan yang diberikan ulama dimaksud, disamping dukungan tertulis, juga dukungan tersebut disampaikan langsung oleh H. Zubir Tuanku Kuning, lewat berbagai argumen yang disampaikannya dihadapan ratusan ulama yang menjadi ikutannya itu.
Boleh dikatakan Surau Mato Aie merupakan tonggak sejarah yang ditorehkan pasangan Yobana-Ril, dalam menetap masa depannya. Banyak pesan moral yang disampaikan H. Zubir Tuanku Kuniang yang akrab dipanggil dengan sebutan Buya oleh santri dan masyarakat Padang Pariaman itu. Menurutnya, para ulama merupakan panutan ditengah masyarakat. Untuk itu, sekali-kali jangan menimbulkan kesan yang menyebabkan kacaunya suasana ditengah masyarakat itu sendiri. Jangan berikan masyarakat dengan istilah baru yang kadang-kadang tidak atau belum terjangkau oleh masyarakat biasa. Lakukan apa yang pernah menjadi fatwa oleh guru-guru dulunya," ujar Buya Zubir.
Buya Zubir melihat seluruh calon bupati/wakil bupati yang kini tengah bersaing, merupakan orang baik-baik. Tidak seorangpun yang punya beban masa lalu yang menyebabkan sang calon itu cacat dimata masyarakat. "Namun, dari yang baik tentu ada yang terbaik. Itulah yang menjadi pilihan kita selaku masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban dalam hidup berbangsa dan bernegara secara baik. Nah, calon yang terbaik itu adalah pasangan Yobana-Ril, terbukti lebih peduli. Dia pasangan yang tidak diragukan lagi komitmennya untuk mengembangkan nilai-nilai yang Islami ditengah masyarakat nantinya," kata Buya Zubir lagi.
Keduanya berangkat dari partai yang berazaskan Islam, yang sangat sesuai dengan partainya orang surau. "Kita ingin pergantian kepala daerah pada Pilkada nanti, mampu membawa daerah ini kearah yang jauh lebih baik lagi yang dilandasi dengan adat dan tradisi ulama yang telah lama berkembang ditengah masyarakat. Yang mampu melakukan hal itu, nampaknya pasangan dari kader muda yang banyak kepedulian ditengah masyarakat ini," ungkapnya.
"Sepenuhnya kita keluarga besar Surau Mato Aie, mendukung dan siap untuk memenangkan pasangan dengan nomor urut lima ini. Semoga jalan panjang yang akan ditempuh pasangan ini dalam menghadapi berbagai persaingan nantinya menjadi mudah dan lancar, sehingga badai yang begitu kencang, ombak yang begitu kuat menghantam, bisa dilewati tanpa meninggalkan kesan yang tak elok. Untuk itu, sebagai orang yang kini tengah bersaing, pasangan ini harus siap segala sesuatunya, apalagi siap untuk menang dan kalah secara ikhlas dalam persaingan nantinya. Sebelum Yobana-Ril mendaftar sebagai pasangan yang akan maju jadi calon bupati/wakil bupati, yang namanya bupati itu telah ada orangnya. Cuman Tuhan baru yang mengetahui siapa orangnya," tambah Buya Zubir dihadap ratusan ulama tersebut.
Pada pertemuan yang berlangsung kurang libih 3 jam itu, sungguh membuat kesan tersendiri bagi pasangan Yobana-Ril. Sebab, dalam suasana Pilkada yang cukup ketat saat ini, dukungan dari ulama mutlak digalang. Ulama punya banyak masyarakat yang selalu setia mengikuti apa yang dikatakan gurunya. Masyarakat kaum thariqat, seperti yang telah lama berkembang di Surau Mato Aie, pituah guru tidak saja didunia ini. Melainkan sampai ke Akhirat kelak. Dulu, kata Buya Zubir, TUanku Kiamkang dalam mengembangkan pengajian selalu mengatakan, kalau setia memegang ilmu pengetahuan yang telah diajarkan guru, maka guru siap untuk bersama muridnya di kampung Akhirat nanti. Tetapi apabila pengajian yang diberikan guru tidak diamalkan, maka siap-siaplah untuk saling berpisak dan berserak nantinya, dikala banyak orang membutuhan berkat dari guru.
Untuk itu, lanjut Buya Zubir, nilai-nilai kebersamaan yang telah lama terpatri dalam diri ulama, jangan sampai luntur dari dukungan terhadap calon bupati yang akan diberikan nantinya. "Mari kita saciok bagaikan ayam, sadanciang bagaikan basi. Hanya dengan kebersamaan itulah seluruh impian, harapan dan cita-cita selalu dikabulkan oleh Allah Swt," sebut Buya Zubir.
Saking besarnya aroma yang ditimbulkan banyak ulama dalam sebuah komplek membuat Yobana Samial dan Dasril tidak lagi merasa sendirian. Yobana-Ril merasakan betul adanya kekuatan dari perjuangan yang selama ini dilakukan. Ada banyak ulama yang setiap hari ada bersama masyarakat jamaahnya, yang dengan ikhlas memberikan dukungan. "Tidak ada kata-kata yang pantas kami ucapkan, selain dari terima kasih banyak atas dukungan yang telah diberikan. Ini merupakan beban moral yang luar biasa berat. Namun yakinlah, dengan kebersamaan, beban berat bisa berkurang. Kami memang berharap, gabak jadi hujan. Artinya, dukungan yang telah diberikan ini menjadi kenyataan dalam menghadapi percaturan, yang kadang-kadang sedikit membuat hilangnya nilai-nilai dakwah dan aktivis yang selama ini kita geluti," kata Yobana Samial. *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar