Rabu, 08 Mei 2019

Jangan Ada Masyarakat Sudah Sejahtera Tetapi Masih Doyan Bantuan Miskin

Padang Pariaman--Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Hendra Aswara menjadwalkan lounching pusat layanan terpadu penanganan kemiskinan dan penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kabupaten Padang Pariaman, pada 20 Juni 2019 mendatang.
Inovasi ini merupakan implementasi proyek perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan III Tahun 2019 yang sedang diikutinya. "Jadi saat ini saya sedang ikut Diklatpim dan kita sepakat jadikan pusat layanan kemiskinan dan PMKS menjadi isu strategis. Insya Allah kita lonching 20 Juni nanti," kata Hendra di Kantornya, Rabu (8/5).
Ia mengaku sedang berbenah sarana dan prasarana ruang layanan yang representatif terdiri dari front office, ruang tunggu, ruang pengaduan, laktasi, ruang bermain anak dan ramah disabilitas serta penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) seluruh layanan. Adapun nomor pengaduan juga disiapkan, yaitu 081211775776.
"Kita buat pusat layanan seperi hotel bintang empat, full AC dan petugas yang ramah dan profesional," ujar jebolan STPDN angkatan XI ini. Pusat layanan yang disingkat Please Care Papa ini juga untuk memperbaiki rapor layanan publik yang digelar Ombudsman Sumbar setiap tahunnya. Hendra menargetkan raih nilai hijau atau tertinggi sesuai Undang-undang nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.


Validasi Data Kemiskinan

Hendra juga menambahkan, bahwa DSP3A Padang Pariaman juga fokus dalam verifikasi dan validasi Basis Data Terpadu (BDT) masyarakat miskin penerima bantuan sosial, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), KIS, BPNT, RTLH dan lainnya.
Dikatakannya, tahun 2018, sebut Ali Mukhni, angka kemiskinan masih 8,04% dari 427 ribu jiwa. Sementara BDT tercatat sebanyak 36.637 KK penerima bantuan yang belum diverifikasi dan validasi secara maksimal. "Kita ingin penerima bantuan ini tepat sasaran, jangan ada masyarakat yang sudah sejahtera tetapi masih doyan menerima bantuan untuk si miskin," ujar Kadis termuda itu.
Ia mengapresiasi masyarakat yang secara sadar ingin keluar dari BDT sebagai penerima bantuan PKH. Ada empat KK yang sudah Graduasi Mandiri di Kecamatan Enam lingkung dan Ulakan Tapakis.
Artinya masyarakat sadar bahwa dia tidak layak menerima bantuan karena sudah mampu. "Jadi bantuan kita alihkan kepada yang berhak sesuai aturan yang berlaku. "Kita berupaya mendorong camat dan walinagari untuk memotivasi warganya yang sudah mampu untuk keluar dari BDT," kata Kadis yang bertabur prestasi itu. (501)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar