Rabu, 19 Februari 2020

Pilihlah Orang Surau untuk Pemimpin Ulama Doakan Ali Mukhni Jadi Gubernur Sumatera Barat

Ulakan--Bertempat di Masjid Agung Syech Burhanuddin, Rabu (19/2) Pimpinan Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) Batang Kabung, Padang Buya Syech Idris Tuanku Mudo beserta santri dan alumni melakukan ziarah di makam Syech Burhanuddin.
Kegiatan ini telah rutin dilaksanakan PPMTI Batang Kabung semenjak tahun 1973. Pembinaan Yayasan PPMTI, Prof. Duski Samad dalam sambutannya mengatakan, bahwa kegiatan ini untuk meningkatkan keimanan dan silaturahmi antar alumni PPMTI yang tersebar di seluruh Indonesia.
Menurutnya, kegiatan ziarah dan zikir bersama ini dihadiri sebanyak lebih kurang seribuan jemaah yang terdiri dari 300 orang santri dan sisanya alumni dan jemaah alumni yang tersebar di seluruh Sumatera Barat.
Pada kesempatan itu, Guru Besar UIN Iman Bonjol Padang ini mengatakan, dalam memilih pemimpin kita harus memilih "orang surau". Dengan kata lain, hatinya selalu tertambat dengan masjid. Seperti halnya H. Ali Mukhni yang dalam masa periode kepemimpinan beliau telah membangun dua masjid yang sangat megah, yaitu Masjid Agung Syech Burhanuddin ini dan Masjid Raya Padang Pariaman yang dibangun di komplek perkantoran IKK Parit Malintang.
"Mari kita doakan bersama, semoga Ali Mukhni yang dua periode jadi Bupati Padang Pariaman ini diberikan kekuatan dan kesehatan. Apo nan dimukasuik sampai, diama pacah," tutupnya, yang disambut amiin oleh ribuan jemaah yang hadir.
Ulama sepuh PPMTI, Mahyuddin Tuanku Sutan mengatakan, bahwa ziarah tahun ini adalah yang terbanyak semenjak kegiatan ziarah ini rutin dilakukan setiap tahun. Dia mengucapkan terima kasih atas bantuan baik materil maupun fasilitas yang diberikan oleh Bupati Ali Mukhni kepada seluruh jemaah.
"Kami atas nama dewan Guru PPMTI mengundang Bapak Bupati Ali Mukhni untuk berkunjung ke PPMTI dan melihat jalan penghubung kampus II dengan kampus III yang dibantu pembebasan lahannya oleh Bapak Ali Mukhni," kata dia.
Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni mengajak seluruh jemaah untuk mendukung pembangunan di Sumatera Barat agar lebih maju kedepannya. PPMTI adalah aset yang tak ternilai karena banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama maupun cendikiawan di Sumatera Barat. Ali Mukhni juga memaparkan bahwa Padang Pariaman dibawah kepemimpinannya fokus untuk menjadikan daerah itu sebagai kabupaten religius.
"Dengan dilaksanakannya wirid rutin setiap minggunya, gerakan Subuh Mubarak, Maghrib mengaji dan pembangunan sarana dan prasarana ibadah serta memugar makam Syech Burhanuddin dengan penataan yang indah dan nyaman untuk melakukan ziarah, adalah bagian dari memperkuat nilai-nilai relegius tersebut," sebutnya. (adv)










Menurut Amirdas Datuak Kudo Bagak PKB Sumbar Tinggal Selangkah Lagi Menuju Senayan

Memanfaatkan hari tuanya, H. Amirdas Datuak Kudo Bagak banyak menghabiskan waktunya di ladang. Dia bertani menggarap lahan seluas delapan hektar di Korong Batang Sariak, Nagari Ketapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Dia tak banyak lagi mengurusi partai. Apalagi, Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang dia geluti pasca keluar dari struktur PKB Sumatra Barat sudah dipastikan tak lagi ikut Pemilu.
Dia tampak santai bergelut dengan profesi petani. Rupanya, secara diam-diam Amirdas punya investasi besar dalam menyambung hidupnya. Bapak lima orang putra-putri demikian merasa senang, ketika di datangi di pondoknya. Lelah dari kebun seolah terobati pada saat melihat penulis yang menemuinya, adalah orang yang sering bagarah dengannya sewaktu ber-PKB dulu.
Memorinya kembali tersingkap luas. Secara spontan dia mengatakan; meskipun tak lagi dalam struktur PKB, hatinya tetap bersama partai yang didirikan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini. Seumur hidup, Ketua DPW PKB Sumbar hasil Muswil pertama ini tak pernah bergabung dengan partai lain. Dipilihnya PKNU setelah PKB, karena partai ini merupakan pentolan dari PKB itu sendiri, dan karena berhubungan baik dengan H. Chairul Anam, Ketua Umum DPP PKNU demikian. Di samping juga anjuran dari seniornya, H. Alwi Shihab dan H. Saifullah Yusuf, yang diikutinya sejak dari Muktamar II PKB di Semarang, Jawa Tengah tahun 2005 silam.
Secara jujur, Amirdas bergabung ke PKB hanyalah karena diajak oleh Saaruddin Tsani. Soal idiologi dan pemahaman Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) yang diusung PKB, itu baru belakangan diperolehnya. Awalnya, istrinya Hj. Hamidar karena berteman dekat dengan istrinya Saaruddin Tsani. Hubungan baik antara istri itulah terjalinnya komunikasi politik antara dia dengan Saaruddin Tsani. Berkali-kali Amirdas dihubungi untuk bisa bergabung dengan PKB, akhirnya dipenuhinya. Sebab, orang yang pertama kali mengajak Saaruddin Tsani masuk PKB adalah Buya Gani Latif.
Pengurus pertama, Amirdas dipercaya sebagai Wakil Bendahara. Alasannya cukup pas, karena Amirdas adalah seorang pengusaha yang terbilang sukses kala itu. Amanah itu diembannya, dan pada Pemilu 1999 Amirdas ikut menjadi Caleg dari Kabupaten Solok untuk DPRD Sumatera Barat. Tapi tak berhasil jadi anggota dewan terhormat. Muswil pertama pada 2002, dia menjabat Ketua DPW, dan H. Nazar Sidin Ketua Dewan Syura-nya. Dia bersaing dengan Azwandi Rahman. Hampir 75 persen suara DPC dia kuasai saat Muswil demikian.
Amirdas merasakan pada periode awal itu sangat sulit untuk mengembangkan partai. Di samping juga tak ada finansial yang kuat menopang kekuatan PKB untuk maju dan bergerak. Namun selaku pengurus, Amirdas bersama pengurus lainnya tetap berupaya sekuat tenaga untuk bisa menjadikan PKB sebagai kekuatan politik yang bisa diperhitungkan. Pengurus yang dibentuknya di kabupaten dan kota hampir tak mampu bekerja. Dan juga pengurus kala itu banyak yang tertulis di atas kertas. Inilah yang menjadi kesulitan, sehingga kekuatan PKB belum diperhitungkan hingga ini hari.
Dari 1998 hingga 2005 Amirdas berada di PKB Sumatera Barat yang dirasakannya cukup banyak juga. Walaupun saat itu PKB belum kenal dengan konflik. Konflik di nasional antara kubu Matori Abdul Djalil dengan Alwi Shihab sama sekali tak mempengaruhi PKB Ranah Minang. Termasuk dirinya sendiri yang keluar dari PKB hanya karena habis masa jabatan dan telah usai satu periode. Hanya tinggal beberapa bulan menjelang Muswil berikutnya.
Di bawah kepemimpinan Amirdas, PKB Sumbar tak bisa bicara banyak, selain dua kursi yang dihasilkan oleh Pemilu 2004 di Kabupaten Pasaman. Padahal ketika musim Pemilu 2004, Caleg DPR RI dari PKB-lah satu-satunya yang mampu memakai baliho berskala besar; H. Sudirman Datuak Pangulu Rajo.
Kedepan dia sangat mengharapkan para pengurus PKB bisa bekerja secara maksimal. Apalagi basis Aswaja yang menjadi paham PKB, sebenarnya banyak dan terbesar di daerah ini. Tinggal lagi cara kerja yang dilakukan pengurus dalam menggaet suara dan simpatisan. Memperbanyak turun ke bawah, memperkuat jaringan PKB hingga ke seluruh nagari yang ada.
"Dengan adanya pengurus anak muda; H. Febby Datuak Bangso Nan Putiah, PKB Sumbar mampu dan harus bisa bicara banyak. Apalagi saat ini banyak terobosan baru yang dilakukannya di tengah masyarakat Sumatera Barat itu sendiri, yang mampu menarik perhatian banyak orang luar untuk melirik PKB. Gerakan itu harus dilakukan secara berkesinambungan, di dukung oleh finansial yang cukup pula, lalu mengurus partai secara bertanggungjawab, insya Allah kemenangan akan berpihak kepada kita," kata dia, Sabtu 26 Mei 2012.
Amirdas lahir di Muaro Paneh, Kabupaten Solok pada 4 April 1940 ini mulai masuk dunia politik sejak era reformasi. Menjabat Wakil Bendahara DPW PKB Sumbar. Muswil pertama mengantarkannya menjadi Ketua DPW PKB hingga berakhir setelah Pemilu 2004. Pasca itu, Amirdas dipercaya sebagai Ketua DPW PKNU Sumatera Barat. Kini, dia sangat berharap PKB di daerah ini bisa gadang, yang tentunya mampu memperjuangkan aspirasi kaum Aswaja itu sendiri, yang selama ini merasa terpinggirkan.
Dia terus berdoa, agar partai yang pernah dia pimpin itu menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kalangan politisi Minangkabau, dan harus bisa mengirim wakilnya ke DPR RI di Senayan, Jakarta sana.
Hasil Pileg 2019, PKB dapat tiga kursi di DPRD Sumatera Barat. Artinya, kata Amirdas, partai ini tinggal selangkah lagi untuk menembus Senayan. "Saya yakn, Pileg 2024 PKB mampu menembus itu. Dan tentunya, sebuah prestasi yang amat sangat luar biasa buat Ketua DPW PKB Febby Datuak Bangso," ujar dia.

Minggu, 16 Februari 2020

Pilkada Padang Pariaman PAN, PDI Perjuangan dan Hanura Berangkat Bersama Gerbong Suhatri Bur

Lubuk Alung--Panasnya Lubuk Alung, Minggu (16/2/20) siang menjelang sore itu seolah terdinginkan dengan semakin mengerucutnya dukungan partai politik untuk Pilkada tahun ini di daerah itu.
"Saya yakin, PAN tak mungkin lepas dari Wabup Suhatri Bur," kata Bendahara Fraksi PAN DPRD Padang Pariaman Topik Hidayat memulai diskusi hangat di bilangan warung kopi di Asam Jawa Lubuk Alung.
Diskusi itu dilakukan secara dadakan, dan tidak dalam formal. Dan mungkin juga terlaksana secara kebetulan. Sehabis melayat ke rumah orangtua Ketua DPC Partai Gerindra yang sekaligus anggota DPRD Padang Pariaman Happy Neldy yang meninggal dunia, Sabtu malamnya.
Warung itu tak jauh dari rumah duka. Pas jenazah almarhumah berangkat dari rumah duka ke Masjid Raya Mujahidin untuk dishalatkan, Topik Hidayat, Wakil Ketua DPRD Padang Pariaman Aprinaldi, anggota dewan Jondedi dan Evendi, mantan Caleg PDI Perjuangan Indra Alamsyah mengajak minum di warung seberang jalan Sudirman Lubuk Alung itu.
Di tengah berlangsungnya diskusi hangat itu, datang Walinagari Lubuk Alung Himan H, anggota DPRD dari PAN Erman Malai dan Wabup Suhatri Bur yang juga Ketua DPD PAN Padang Pariaman. "Saya mendengar langsung dari mulut Ketum PAN Zulkifli Hasan. Katanya ke Suhatri Bur, nanti harus jadi bupati. Jadi ini dasar saya, PAN tak mungkin beralih dukungan ke yang lain dalam Pilkada nanti," ujar Topik Hidayat.
Tinggal lagi, kata Topik Hidayat, PDI Perjuangan dan Hanura apa mau ikut atau akan tinggal. Sebab, untuk bisa mengusung dalam Pilkada syaratnya partai politik atau gabungan partai politik yang punya delapan kursi.
"PAN punya tujuh kursi. Sedangkan PDI Perjuangan ada dua kursi, dan Hanura satu kursi di DPRD Padang Pariaman. Nah, dari yang tiga kekuatan ini, Suhatri Bur sudah oke untuk berangkat ke KPU," lanjutnya.
Evendi yang anggota dewan dari Hanura serta Jondedi alias Budur dari PDI Perjuangan mengangguk, tentunya tanda setuju. Hanya saja, posisi mereka tidak ketua partai. "Hubungan baik Suhatri Bur dengan Marzul Veri, Ketua DPD Hanura Sumbar yang sama-sama di KPU dulunya, kita yakin, tak begitu menyusahkan dalam merangkul partai ini," sambung Evendi.
Begitu pula dengan PDI Perjuangan yang punya dua kursi di dewan. "Saya sebagai Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Padang Pariaman berusaha untuk bersama-sama nantinya ikut bersama gerbong calon bupati Suhatri Bur," kata Budur yang dianggukan Indra Alamsyah.
Dari berbagai survei yang dilakukan banyak pihak, Suhatri Bur yang saat ini Wabup dan Ketua DPD PAN Padang Pariaman menempatkan posisinya paling atas. Tentunya hal itu tak lepas dari faktor incumbent, serta ketokohan mantan Ketua KPU Padang Pariaman tersebut.
Di tambah pula, sebut Topik, Suhatri Bur termasuk barisan yang mendukung penuh Zulkifli Hasan dalam Kongres PAN yang berlangsung di Kendari, Sulawesi Tenggara 10 Februari lalu. "Terpilihnya Zulkifli Hasan kembali menakodai partai trah Muhammadiyah ini, mementahkan isu kalau PAN itu akan mencalonkan Darmon dan calon lainnya dalam Pilkada nanti," ulas Topik Hidayat. (501)



Dua Pejabat Walinagari Dilantik Sebagai Daerah Perlintasan, Sungai Limau Berpotensi Peredaran Narkoba

Sungai Limau--Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri But menghadiri pelantikan penjabat (PJ) Walinagari Pilubang dan PJ Walinagari Kuranji Hilir, Senin (17/2) di Aula Kantor Camat Sungai Limau.
Suhatri Bur mengucapakan terima ksih kepada Walinagari Pilubang dan Walinagari Kuranji Hilir atas dedikasi dan kontribusi selama ini dalam membangun dan mengembangkan nagari ini.
"Sesuai dengan Undang-undang yang berlaku bahwasanya masa jabatan walinagari enam tahun dalam satu periode," ujarnya.
Ia juga menambahkan, selama enam tahun dalam menjalankan tugas banyak suka duka yang dialami dalam membangun nagari ini.
"Kami berharap kepada PJ walinagari agar sering melibatkan dan berkormuniasi dengan Bamus dan jajaran lainnya dalam menjalankan tugas agar tidak salah dalam menjalankan tugas tersebut," pinta Suhatri Bur.
Kecamatan Sungai Limau, kata dia, merupakan jalan lintas antar provinsi. Hal ini berpotensi mempermudah maraknya perdagangan narkoba. Merupakan tugas kita bersama mengatasi masalah narkoba dan LGBT yang sedang marak akhir-akhir ini," lanjut Aciak sapaan akrab Ketua DPD PAN Padang Pariaman ini.
Padang akhir sambutannya, wabup mengatakan agar PJ walinagari dapat meningkatkan pendapatan hasil nagari dengan cara mengelola BUMNag demi kesejahteraan perekonomian masyarakat.
Pergantian jabatan di Nagari Pilubang antara Khaidir dengan Mirwan Karni, dan di Nagari Kuranji Hilir pergantian jabatan antara Janar Byen dengan Mulyadi. Penjabat Walinagari ini dilantik langsung oleh Camat Sungai Limau Arlis.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman sekaligus tokoh masyarakat Sungai Limau, Arwinsyah mengucapkan terima kasih kepada walinagari lama yang telah berkontribusi banyak dalam membangun nagari.
"Kita berharap kepada penjabat walinagari agar berjuang dengan semangat yang tinggi untuk memimpin dan membangun nagari ini," harapnya.
Ia juga berpesan kepada masyarakat dalam menghadapi pemilihan kepala daerah nantinya dapat berkontribusi dengan baik.
Pelantikan ini dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman Arwinsyah, anggota DRPD, Dewiwarman Caniago, unsur Forkopimca Sungai Limau, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Rahmang, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Junaidi Syah, Camat Sungai Limau Arlis. (501)

HAUL XXIII Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah Madrasatul 'Ulum Diharapkan Terus Melakukan Pembaharuan

Lubuk Pandan--Terima kasih banyak para santri, guru tuo bersama pimpinan dan alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Madrasatul 'Ulum yang telah mengangkat HAUL XXIII Buya H. Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah. Sungguh luar biasa mulianya, karenna acara ini selalu dilakukan tiap tahun. Sementara, para anak dan cucunya belum pernah sama sekali melakukan hal ini.
Ungkapan polos dan jujur ini disampaikan Masrizal, mantan anggota DPRD Kabupaten Padang Pariaman yang sekaligus cucu mediang Buya Abdullah Aminuddin, Sabtu (15/2/2020) di aula pesantren yang terletak di Kampung Guci, Nagari Lubuk Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung itu. HAUL kali ini mengangkat tema; "Menghargai Perbedaan Pendapat dalam Menumbuhkan Persatuan dan Kesatuan", menghadirkan sejumlah narasumber yang merupakan alumni dan keluarga Buya Abdullah Aminuddin, pendiri Pesantren Madrasatul 'Ulum.
Buya Abdullah Aminuddin yang lahir 1908 dan wafat 1996 ini, merupakan ulama besar yang mendirikan pesantren di Lubuk Pandan, Kabupaten Padang Pariaman pada 1940 M. Kini, pesantrennya itu telah mengalami pasang surut, sesuai perjalan zaman. Masrizal merasakan dirinya pernah punya testimoni khusus dengan Buya Abdullah Aminuddin pada saat dia merampungkan pendidikannya di perguruan tinggi.
"Datanglah ke surau," kata Buya Abdullah Aminuddin kepada Masrizal kala mengadu soal uang kuliah kepadanya, seperti yang diceritakan kembali oleh Masrizal. Lalu, Masrizal pun datang ke surau, yakni pesantren Madrasatul 'Ulum. Langsung masuk ke kamarnya yang saat itu diatas anjung. Diberinya buah kurma, kain sarung, dan emas.
Emas yang diberikan Buya Abdullah Aminuddin, cerita Masrizal, tak banyak. Tak cukup untuk membiayai uang kuliah sampai. Tetapi, Buya Abdullah Aminuddin menyuruhkan untuk memakai emas tersebut. "Pakai saja ini dulu," tegas Buya Abdullah Aminuudin, seperti diceritakan kembali oleh Masrizal.
Artinya, kata Masrizal, Buya Abdullah Aminuddin yang tiap hari dan waktu bergelud dengan santri dan santriwati, sangat mendukung langkah pendidikan umum yang dilakukan Masrizal. Dan itu pula yang dilakukan oleh banyak cucu Buya Abdullah Aminuddin lainnya. Ternyata dalam dunia penmdidikan, para cucunya telah banyak yang tamat pendidikan S-2.
Narasumber lainnya, Marulis Tuanku Mudo, alumni dari Kabupaten Solok, Bustami Tuanku Khatib, dari Tiku, Kabupaten Agam, Kamisin Datuak Batuah Nan Kuniang, dari Singgalang, Kabupaten Tanah Datar, Marzuki Tuanku Nan Basa, Pimpinan Madrasatul 'Ulum, dan Umar Tuanku Labai Bagindo dari Singgalang, Tanah Datar menyikapi berbagai persoalan yang pernah dialaminya bersama Buya Abdullah Aminuddin.
"Dalam agama, ayah kita itu ada tiga. Pertama ayah yang menyebabkan kita lahir kedunia. Kedua ayah istri atau suami kita, dan yang ketiga orang yang mengajar kita ilmu pengetahuan. Yang ketiga ini juga disebut sebagai ayah rohani," kata Marulis Tuanku Mudo, alumni yang pernah mendirikan Pesantren Madrasatul 'Ulum di Koto Buruak Lubuk Alung ini.
Marulis mengajak para alumni dan seluruh keluarga besar pesantren Madrasatul 'Ulum untuk selalu mengingat dan mengenang lembaga pendidikan yang pernah membesarkan diri santri dan alumni tersebut. "Sesempit apapun waktu kita, sesibuk apapun pekerjaan yang kita lakukan, sesekali luangkan waktu untuk datang kembali ke pesantren ini," ujar dia.
Kemudian, katanya lagi, amalkan seluruh ilmu dan kaji yang pernah dituntut bertahun-tahun di pesantren ini. "Silakan kita jadi anggota dewan, jadi walinagari, Ketua KAN, serta jadi tokoh lainnya di tengah masyarakat lingkungan kita, tetapi yang nama ilmu dari pesantren ini jangan pernah tinggalkan. Artinya, warnai lembaga yang kita geluti dengan nuansa pesantren," ungkap Marulis.
"Dalam menyikapi perbedaan cara pandang, kita jangan seperti beberap orang buta yang memegang gajah. Kita harus melihat dari berbagai sudut pandang, sehingga bisa objektif memandang persoalan yang tengah terjadi di tengah masyarakat," sambung Umar Tuanku Labai Bagindo. Hal yang hampir mirip juga dikemukakan Bustami Tuanku Khatib.
Kata dia, pengalaman Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah jadi Tuanku Khadi Pakandangan sangat luar biasa. Banyak pihak yang mencoba menggoyahkan pendiriannya soal khutbah Jumat, namun beliau tetap dalam pendiriannya. Dia memberikan jawaban yang diterima semua pihak. Tidak menyalahkan kelompok lain, yang berbeda cara pandang dengan dia.
Sementara Tuanku Afredison, alumni yang saat ini jadi anggota dewan Padang Pariaman memandang Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah sebagai seorang ulama yang tidak anti pemerintah, dan tidak anti pembaharuan. "Buktinya, saat saya jadi santri dan salah seorang guru tuo, pernah dilakukan pembaharuan dalam proses belajar mengajar di pesantren ini dengan belajar dalam kelas, pakai rapor dan tentunya juga pakai kuirikulum," cerita anggota dewan dari PKB ini.
"Dari Buya Abdullah Aminuddin pula saya belajar banyak berorganisasi. Dia ulama organisatoris. Saya pernah mendampinginya Musda PERTI di Kabupaten Limapuluh Kota bersama mendiang Buya Buchari Rauf," sebut Afredison.
Pimpinan Pesantren Madrasatul 'Ulum, Marzuki Tuanku Nan Basa menyampaikan terima kasih kepada seluruh alumni yang telah berpartisipasi penuh dalam acara HAUL yang diperingati setiap tahun tersebut. "Mari kita jadikan perbedaan pendapat, perbedaan cara pandang dalam beragama sebagai ajang membangun hubungan silaturrahim yang baik, menuju kebesaran jiwa dan pesantren ini," ungkapnya. (501)







Jumat, 14 Februari 2020

Cerita dari HPN Bajarmasin Ikhlas Bakri Melabrak, Segepok Buku Kebawa

Menara Pandang itu tampak cantik dan indah. Pantulan cahaya lampunya dari kejauhan di kala malam seolah ingin mempertahan pengunjung dan tak bisa berinsut dari tempat duduknya. Terutama pasangan muda mudi yang tengah berkisah dan bercerita antara yang satu dengan yang lainnya dari seberang Sungai Martapura.
Dikutip dari laman Tribunbalangan.com, Jumat 14 Februari 2020, Menara Pandang Banjarmasin diresmikan pada Juni 2014. Menara ini masih di lingkungan Siring Sungai Martapura, jalan Kapten Pierre Tendean Banjarmasin.
Menara ini memiliki empat lantai, luas bangunannya 1x36 meter, tinggi 31 meter, arsitektur bangunan Menara Pandang ini adalah khas Banjar. Lantai dasar tidak berdinding depan dan belakangnya, lantai dua dan tiga ada dindingnya, dan lantai empat paling atas tidak berdinding juga.
Jadi pengunjung yang datang naik ke atas menara bisa melihat pemandangan Sungai Martapura, gedung-gedung bertingkat di sekitar sungai dan pemandangan lainnya dari atas menara.
Momen Hari Pers Nasional (HPN) 2020, Pasar Terapung di Sungai Martapura, tak jauh dari Menara Pandang jadi destinasi wisata. Sebagai insan pers, rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Padang Pariaman dan Pemkab-nya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Malam Minggu, pas baru sampai di daerah yang terkenal dengan Seribu Sungai itu, rombongan menikmati malam di tepi Sungai Martapura.
Menurut Wikipedia, nama sungai ini diambil dari nama Kota Martapura, yang terletak di sebelah hulu Kota Banjarmasin. Nama Martapura diberikan oleh Raja Banjar ke-4 Sultan Mustain Billah sebagai ibu kota yang baru didirikan kira-kira pada tahun 1630 setelah dipindah dari Banjarmasin ke kawasan Kayutangi (terletak di sebelah hulu). Karena itu nama kuno sungai Martapura adalah sungai Kayutangi. Nama lainnya yang dahulu digunakan adalah Sungai Tatas, mengacu kepada delta Pulau Tatas, daerah yang pada 13 Agustus 1787 menjadi milik VOC-Belanda (kotta-Blanda) dan sekarang merupakan pusat Kota Banjarmasin modern. Nama lain Kota Banjarmasin adalah Kota Tatas.
Di komplek itu pula terletaknya Nol Kilometer. Lengkaplah kawasan ini jadi pusat keramaian. Air sungai yang keruh tak membuat orang bosan untuk mengujunginya. Hari Minggu, Pasar Terapung jadi pusat perhatian banyak orang. Lalu lintas perekonomian masyarakat tradisional yang menjual dan membeli dari atas perahu-perahu, menjadi daya tarik tersendiri.
Perut lapar. Itu cerita utama. Apalagi sehabis perjalan panjang lewat udara dan darat dari Padang Pariaman, pas tiba di lokasi HPN jelas mengundang untuk lekas pergi dari tempat penginapan untuk mencari yang namanya pengganjal perut agar jangan terlalu lama berbunyinya. Hanya saja, upaya untuk melihat kehidupan malam di pinggir Sungai Martapura, bersua banyak orang, ada yang kenal dan banyak pula yang tak saling kenal, membuat perbandingannya sama antara perut keroncongan dengan upaya melihat keingin-tahuan tersebut.
"Cari makan susah di sini," kata Gusfen Khairul, salah seorang petinggi PWI Sumatera Barat sesaat sebelum kami meninggal penginapan untuk pergi mencari makam malam. Rombongan dari Padang Pariaman terdiri dari Zahirman, Kadis Kominfo, Ikhlas Bakri, Penasehat PWI, Damanhuri, Ketua PWI, Idham Fadhil, Wakil Sekretaris PWI dan Suindra, Kasubag di Bagian Humas Setdakab Padang Pariaman.
Apa yang disampaikan Gusfen Khairul benar adanya. Setelah penat berjalan, dan nyaris mengelilingi kawasan Pasar Terapung, yang namanya warung nasi Padang tak bersua. Akhirnya, kami bersua warung nasi tak jauh dari penginapan. Malam mulai larut, selera makan pun berkurang karena ngantuk dan lelah tak bisa pula beranjak dari badan.

Hafal seluruh kampung

Adalah Ikhlas Bakri. Mantan Ketua PWI Padang Pariaman dan Kota Pariaman dua periode ini membuat perjalanan jadi enak dan menyenangkan. Di samping dia suka melawak, banyak cerita, dia juga hafal nama-nama kampung. Dan sedikit pandai pula berbahasa daerah yang disebutnya. Dengan ini, orang yang ditanyanya merasa susah untuk mengelak, dan malah meyakini kalau kampungnya memang berdekatan dengan kampungnya Ikhlas Bakri.
"Ini yang di depan jalan itu, dan terus di ujungnya ketemu dengan jalan ini, dan seterusnya," begitu Ikhlas untuk memecah kesunyian dalam mobil, memulai dialognya dengan sopir. "Dimana aslinya, Bang," tanya Ikhlas. "Saya Solo, misalnya jawab sang sopir. Ikhlas langsung menambahkan, kalau dia orang yang kampungnya dekat dari Solo itu. Dia sebutlah tempat ini dan itu, serta lokasi lain yang kemungkinan sopir itu tahu dengan hal yang disebutnya.
Begitu pula saat diskusi dan berkenalan dengan wartawan daerah lain. Ikhlas tak pernah kehilangan akal untuk ingin bisa dekat dan akrap dengan orang bersangkutan. Apalagi kalau bersua dengan orang yang memang kenal dan sudah lama tak jumpa, cerita akan lain. Bisa dia berlama-lama, membuka cerita inilah dan itulah.
Itulah barangkali ciri khas seorang Ikhlas Bakri. Orangnya banyak teman dan kenalan. Luas jaringan dan jangkauan. Barangkali tema HPN kali ini; Menggelorakan Kalimatan Selatan sebagai Ibu Kota Negara akan membuat Ikhlas Bakri lebih leluasa berselancar, mengkalkulasikan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, bila Ibu Kota Negara telah berada di Kalimatan Timur, seperti yang sudah dicetuskan Presiden Joko Widodo.
Bagi Ikhlas Bakri tak ada urusan yang tidak bisa di selesaikan. Semua bisa dilakukannya. Contoh kecil, saat minta tanda tangan SPPD ke Panitia Nasional HPN, kita hanya dikasih buku satu seorang oleh yang memberi tanda tangan, Ikhlas Bakri langsung melabrak ini, dan akhirnya kami bisa membawa segepok buku yang diterbitkan Panitia HPN Bajarmasin.
"Hebat, Ketua," kata saya. "Oh, kalau soal (mengurus berbagai hal) itu sudah lama saya hebatnya," jawab dia. Jawabnya itu membuat kita geli dan tak tahan ketawa kadang-kadang.












Rabu, 05 Februari 2020

Pelaminan Pengantin di Luar Rumah Betentangan dengan Adat Minangkabau

Pariaman--Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus memperkuat nilai-nilai agama, kebangsaan dan adat yang berlaku di tengah masyarakat. Apalagi di zaman melineal 4.0 di tengah tantangan kehidupan yang terus meningkat.
Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman Muhammad Nur, Senin (3/2) ketika membuka Seminar Adat yang diselenggarakan PK PMII Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sumbar, di aula SKB Rawang, Kota Pariaman. Menurut Muhammad Nur, kegiatan seminar adat ini sangat tepat dan penting dilakukan PMII.
“Karena itu, kita patut memberikan apresiasi kepada PMII yang sudah memperkuat nilai-nilai adat melalui seminar ini. Apalagi pesertanya dari mahasiswa, pelajar SMA dan guru di sekolah,” kata Muhammad Nur, mantan Ketua PC GP Ansor Kota Pariaman ini.
Narasumber seminar tokoh adat Minang Musradahrizal Katik Rajo Mangkuto mengatakan, banyak kalangan yang tidak paham dalam prosesi pesta pernikahan menurut adat Minang saat ini. Pelaminan pengantin yang berada di luar rumah, bahkan di jalan pun yang disulap jadi tempat pengantin. Padahal dalam adat Minang, pelaminan pengantin tersebut haruslah di dalam rumah.
“Ketika pertama kali ada permintaan mengadakan pesta pernikahan di gedung pertemuan di Kota Padang dulunya, para niniak mamak mengizinkan dengan syarat tetap juga ada pelaminan mini di rumah pengantin perempuan," kata dia.
Pelaminan di luar rumah, ujarnya, sama sekali tidak dibenarkan. "Kalau pun sekarang terpaksa pelaminan di luar rumah dengan alasan tertentu, harusnya tetap ada pelaminan di dalam rumah dengan ukuran lebih kecil,” kata Mak Katik Rajo Mangkuto yang pernah mengajar di Hawai University dan sudah memperkenalkan adat Minang ke lima benua.
Ketua Komisariat PMII STIE Sumbar Hari Yanto menyebutkan, seminar bertemakan, "Revitalisasi Pemahaman Adat dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0. Seminar dipandu Anggota Pengurus Dewan Pendidikan Kota Pariaman Armaidi Tanjung. Turut memberikan sambutan Ketua PC PMII Kota Pariaman Khairul Rianda dan hadir mantan Ketua PC PMII Kota Pariaman Idris, Masrizal dan Rizka Adila. (501)