Lubuk Alung--Panasnya Lubuk Alung, Minggu (16/2/20) siang menjelang sore itu seolah terdinginkan dengan semakin mengerucutnya dukungan partai politik untuk Pilkada tahun ini di daerah itu.
"Saya yakin, PAN tak mungkin lepas dari Wabup Suhatri Bur," kata Bendahara Fraksi PAN DPRD Padang Pariaman Topik Hidayat memulai diskusi hangat di bilangan warung kopi di Asam Jawa Lubuk Alung.
Diskusi itu dilakukan secara dadakan, dan tidak dalam formal. Dan mungkin juga terlaksana secara kebetulan. Sehabis melayat ke rumah orangtua Ketua DPC Partai Gerindra yang sekaligus anggota DPRD Padang Pariaman Happy Neldy yang meninggal dunia, Sabtu malamnya.
Warung itu tak jauh dari rumah duka. Pas jenazah almarhumah berangkat dari rumah duka ke Masjid Raya Mujahidin untuk dishalatkan, Topik Hidayat, Wakil Ketua DPRD Padang Pariaman Aprinaldi, anggota dewan Jondedi dan Evendi, mantan Caleg PDI Perjuangan Indra Alamsyah mengajak minum di warung seberang jalan Sudirman Lubuk Alung itu.
Di tengah berlangsungnya diskusi hangat itu, datang Walinagari Lubuk Alung Himan H, anggota DPRD dari PAN Erman Malai dan Wabup Suhatri Bur yang juga Ketua DPD PAN Padang Pariaman. "Saya mendengar langsung dari mulut Ketum PAN Zulkifli Hasan. Katanya ke Suhatri Bur, nanti harus jadi bupati. Jadi ini dasar saya, PAN tak mungkin beralih dukungan ke yang lain dalam Pilkada nanti," ujar Topik Hidayat.
Tinggal lagi, kata Topik Hidayat, PDI Perjuangan dan Hanura apa mau ikut atau akan tinggal. Sebab, untuk bisa mengusung dalam Pilkada syaratnya partai politik atau gabungan partai politik yang punya delapan kursi.
"PAN punya tujuh kursi. Sedangkan PDI Perjuangan ada dua kursi, dan Hanura satu kursi di DPRD Padang Pariaman. Nah, dari yang tiga kekuatan ini, Suhatri Bur sudah oke untuk berangkat ke KPU," lanjutnya.
Evendi yang anggota dewan dari Hanura serta Jondedi alias Budur dari PDI Perjuangan mengangguk, tentunya tanda setuju. Hanya saja, posisi mereka tidak ketua partai. "Hubungan baik Suhatri Bur dengan Marzul Veri, Ketua DPD Hanura Sumbar yang sama-sama di KPU dulunya, kita yakin, tak begitu menyusahkan dalam merangkul partai ini," sambung Evendi.
Begitu pula dengan PDI Perjuangan yang punya dua kursi di dewan. "Saya sebagai Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Padang Pariaman berusaha untuk bersama-sama nantinya ikut bersama gerbong calon bupati Suhatri Bur," kata Budur yang dianggukan Indra Alamsyah.
Dari berbagai survei yang dilakukan banyak pihak, Suhatri Bur yang saat ini Wabup dan Ketua DPD PAN Padang Pariaman menempatkan posisinya paling atas. Tentunya hal itu tak lepas dari faktor incumbent, serta ketokohan mantan Ketua KPU Padang Pariaman tersebut.
Di tambah pula, sebut Topik, Suhatri Bur termasuk barisan yang mendukung penuh Zulkifli Hasan dalam Kongres PAN yang berlangsung di Kendari, Sulawesi Tenggara 10 Februari lalu. "Terpilihnya Zulkifli Hasan kembali menakodai partai trah Muhammadiyah ini, mementahkan isu kalau PAN itu akan mencalonkan Darmon dan calon lainnya dalam Pilkada nanti," ulas Topik Hidayat. (501)
Minggu, 16 Februari 2020
Dua Pejabat Walinagari Dilantik Sebagai Daerah Perlintasan, Sungai Limau Berpotensi Peredaran Narkoba
Sungai Limau--Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri But menghadiri pelantikan penjabat (PJ) Walinagari Pilubang dan PJ Walinagari Kuranji Hilir, Senin (17/2) di Aula Kantor Camat Sungai Limau.
Suhatri Bur mengucapakan terima ksih kepada Walinagari Pilubang dan Walinagari Kuranji Hilir atas dedikasi dan kontribusi selama ini dalam membangun dan mengembangkan nagari ini.
"Sesuai dengan Undang-undang yang berlaku bahwasanya masa jabatan walinagari enam tahun dalam satu periode," ujarnya.
Ia juga menambahkan, selama enam tahun dalam menjalankan tugas banyak suka duka yang dialami dalam membangun nagari ini.
"Kami berharap kepada PJ walinagari agar sering melibatkan dan berkormuniasi dengan Bamus dan jajaran lainnya dalam menjalankan tugas agar tidak salah dalam menjalankan tugas tersebut," pinta Suhatri Bur.
Kecamatan Sungai Limau, kata dia, merupakan jalan lintas antar provinsi. Hal ini berpotensi mempermudah maraknya perdagangan narkoba. Merupakan tugas kita bersama mengatasi masalah narkoba dan LGBT yang sedang marak akhir-akhir ini," lanjut Aciak sapaan akrab Ketua DPD PAN Padang Pariaman ini.
Padang akhir sambutannya, wabup mengatakan agar PJ walinagari dapat meningkatkan pendapatan hasil nagari dengan cara mengelola BUMNag demi kesejahteraan perekonomian masyarakat.
Pergantian jabatan di Nagari Pilubang antara Khaidir dengan Mirwan Karni, dan di Nagari Kuranji Hilir pergantian jabatan antara Janar Byen dengan Mulyadi. Penjabat Walinagari ini dilantik langsung oleh Camat Sungai Limau Arlis.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman sekaligus tokoh masyarakat Sungai Limau, Arwinsyah mengucapkan terima kasih kepada walinagari lama yang telah berkontribusi banyak dalam membangun nagari.
"Kita berharap kepada penjabat walinagari agar berjuang dengan semangat yang tinggi untuk memimpin dan membangun nagari ini," harapnya.
Ia juga berpesan kepada masyarakat dalam menghadapi pemilihan kepala daerah nantinya dapat berkontribusi dengan baik.
Pelantikan ini dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman Arwinsyah, anggota DRPD, Dewiwarman Caniago, unsur Forkopimca Sungai Limau, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Rahmang, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Junaidi Syah, Camat Sungai Limau Arlis. (501)
Suhatri Bur mengucapakan terima ksih kepada Walinagari Pilubang dan Walinagari Kuranji Hilir atas dedikasi dan kontribusi selama ini dalam membangun dan mengembangkan nagari ini.
"Sesuai dengan Undang-undang yang berlaku bahwasanya masa jabatan walinagari enam tahun dalam satu periode," ujarnya.
Ia juga menambahkan, selama enam tahun dalam menjalankan tugas banyak suka duka yang dialami dalam membangun nagari ini.
"Kami berharap kepada PJ walinagari agar sering melibatkan dan berkormuniasi dengan Bamus dan jajaran lainnya dalam menjalankan tugas agar tidak salah dalam menjalankan tugas tersebut," pinta Suhatri Bur.
Kecamatan Sungai Limau, kata dia, merupakan jalan lintas antar provinsi. Hal ini berpotensi mempermudah maraknya perdagangan narkoba. Merupakan tugas kita bersama mengatasi masalah narkoba dan LGBT yang sedang marak akhir-akhir ini," lanjut Aciak sapaan akrab Ketua DPD PAN Padang Pariaman ini.
Padang akhir sambutannya, wabup mengatakan agar PJ walinagari dapat meningkatkan pendapatan hasil nagari dengan cara mengelola BUMNag demi kesejahteraan perekonomian masyarakat.
Pergantian jabatan di Nagari Pilubang antara Khaidir dengan Mirwan Karni, dan di Nagari Kuranji Hilir pergantian jabatan antara Janar Byen dengan Mulyadi. Penjabat Walinagari ini dilantik langsung oleh Camat Sungai Limau Arlis.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman sekaligus tokoh masyarakat Sungai Limau, Arwinsyah mengucapkan terima kasih kepada walinagari lama yang telah berkontribusi banyak dalam membangun nagari.
"Kita berharap kepada penjabat walinagari agar berjuang dengan semangat yang tinggi untuk memimpin dan membangun nagari ini," harapnya.
Ia juga berpesan kepada masyarakat dalam menghadapi pemilihan kepala daerah nantinya dapat berkontribusi dengan baik.
Pelantikan ini dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman Arwinsyah, anggota DRPD, Dewiwarman Caniago, unsur Forkopimca Sungai Limau, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Rahmang, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Junaidi Syah, Camat Sungai Limau Arlis. (501)
HAUL XXIII Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah Madrasatul 'Ulum Diharapkan Terus Melakukan Pembaharuan
Lubuk Pandan--Terima kasih banyak para santri, guru tuo bersama pimpinan dan alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Madrasatul 'Ulum yang telah mengangkat HAUL XXIII Buya H. Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah. Sungguh luar biasa mulianya, karenna acara ini selalu dilakukan tiap tahun. Sementara, para anak dan cucunya belum pernah sama sekali melakukan hal ini.
Ungkapan polos dan jujur ini disampaikan Masrizal, mantan anggota DPRD Kabupaten Padang Pariaman yang sekaligus cucu mediang Buya Abdullah Aminuddin, Sabtu (15/2/2020) di aula pesantren yang terletak di Kampung Guci, Nagari Lubuk Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung itu. HAUL kali ini mengangkat tema; "Menghargai Perbedaan Pendapat dalam Menumbuhkan Persatuan dan Kesatuan", menghadirkan sejumlah narasumber yang merupakan alumni dan keluarga Buya Abdullah Aminuddin, pendiri Pesantren Madrasatul 'Ulum.
Buya Abdullah Aminuddin yang lahir 1908 dan wafat 1996 ini, merupakan ulama besar yang mendirikan pesantren di Lubuk Pandan, Kabupaten Padang Pariaman pada 1940 M. Kini, pesantrennya itu telah mengalami pasang surut, sesuai perjalan zaman. Masrizal merasakan dirinya pernah punya testimoni khusus dengan Buya Abdullah Aminuddin pada saat dia merampungkan pendidikannya di perguruan tinggi.
"Datanglah ke surau," kata Buya Abdullah Aminuddin kepada Masrizal kala mengadu soal uang kuliah kepadanya, seperti yang diceritakan kembali oleh Masrizal. Lalu, Masrizal pun datang ke surau, yakni pesantren Madrasatul 'Ulum. Langsung masuk ke kamarnya yang saat itu diatas anjung. Diberinya buah kurma, kain sarung, dan emas.
Emas yang diberikan Buya Abdullah Aminuddin, cerita Masrizal, tak banyak. Tak cukup untuk membiayai uang kuliah sampai. Tetapi, Buya Abdullah Aminuddin menyuruhkan untuk memakai emas tersebut. "Pakai saja ini dulu," tegas Buya Abdullah Aminuudin, seperti diceritakan kembali oleh Masrizal.
Artinya, kata Masrizal, Buya Abdullah Aminuddin yang tiap hari dan waktu bergelud dengan santri dan santriwati, sangat mendukung langkah pendidikan umum yang dilakukan Masrizal. Dan itu pula yang dilakukan oleh banyak cucu Buya Abdullah Aminuddin lainnya. Ternyata dalam dunia penmdidikan, para cucunya telah banyak yang tamat pendidikan S-2.
Narasumber lainnya, Marulis Tuanku Mudo, alumni dari Kabupaten Solok, Bustami Tuanku Khatib, dari Tiku, Kabupaten Agam, Kamisin Datuak Batuah Nan Kuniang, dari Singgalang, Kabupaten Tanah Datar, Marzuki Tuanku Nan Basa, Pimpinan Madrasatul 'Ulum, dan Umar Tuanku Labai Bagindo dari Singgalang, Tanah Datar menyikapi berbagai persoalan yang pernah dialaminya bersama Buya Abdullah Aminuddin.
"Dalam agama, ayah kita itu ada tiga. Pertama ayah yang menyebabkan kita lahir kedunia. Kedua ayah istri atau suami kita, dan yang ketiga orang yang mengajar kita ilmu pengetahuan. Yang ketiga ini juga disebut sebagai ayah rohani," kata Marulis Tuanku Mudo, alumni yang pernah mendirikan Pesantren Madrasatul 'Ulum di Koto Buruak Lubuk Alung ini.
Marulis mengajak para alumni dan seluruh keluarga besar pesantren Madrasatul 'Ulum untuk selalu mengingat dan mengenang lembaga pendidikan yang pernah membesarkan diri santri dan alumni tersebut. "Sesempit apapun waktu kita, sesibuk apapun pekerjaan yang kita lakukan, sesekali luangkan waktu untuk datang kembali ke pesantren ini," ujar dia.
Kemudian, katanya lagi, amalkan seluruh ilmu dan kaji yang pernah dituntut bertahun-tahun di pesantren ini. "Silakan kita jadi anggota dewan, jadi walinagari, Ketua KAN, serta jadi tokoh lainnya di tengah masyarakat lingkungan kita, tetapi yang nama ilmu dari pesantren ini jangan pernah tinggalkan. Artinya, warnai lembaga yang kita geluti dengan nuansa pesantren," ungkap Marulis.
"Dalam menyikapi perbedaan cara pandang, kita jangan seperti beberap orang buta yang memegang gajah. Kita harus melihat dari berbagai sudut pandang, sehingga bisa objektif memandang persoalan yang tengah terjadi di tengah masyarakat," sambung Umar Tuanku Labai Bagindo. Hal yang hampir mirip juga dikemukakan Bustami Tuanku Khatib.
Kata dia, pengalaman Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah jadi Tuanku Khadi Pakandangan sangat luar biasa. Banyak pihak yang mencoba menggoyahkan pendiriannya soal khutbah Jumat, namun beliau tetap dalam pendiriannya. Dia memberikan jawaban yang diterima semua pihak. Tidak menyalahkan kelompok lain, yang berbeda cara pandang dengan dia.
Sementara Tuanku Afredison, alumni yang saat ini jadi anggota dewan Padang Pariaman memandang Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah sebagai seorang ulama yang tidak anti pemerintah, dan tidak anti pembaharuan. "Buktinya, saat saya jadi santri dan salah seorang guru tuo, pernah dilakukan pembaharuan dalam proses belajar mengajar di pesantren ini dengan belajar dalam kelas, pakai rapor dan tentunya juga pakai kuirikulum," cerita anggota dewan dari PKB ini.
"Dari Buya Abdullah Aminuddin pula saya belajar banyak berorganisasi. Dia ulama organisatoris. Saya pernah mendampinginya Musda PERTI di Kabupaten Limapuluh Kota bersama mendiang Buya Buchari Rauf," sebut Afredison.
Pimpinan Pesantren Madrasatul 'Ulum, Marzuki Tuanku Nan Basa menyampaikan terima kasih kepada seluruh alumni yang telah berpartisipasi penuh dalam acara HAUL yang diperingati setiap tahun tersebut. "Mari kita jadikan perbedaan pendapat, perbedaan cara pandang dalam beragama sebagai ajang membangun hubungan silaturrahim yang baik, menuju kebesaran jiwa dan pesantren ini," ungkapnya. (501)
Ungkapan polos dan jujur ini disampaikan Masrizal, mantan anggota DPRD Kabupaten Padang Pariaman yang sekaligus cucu mediang Buya Abdullah Aminuddin, Sabtu (15/2/2020) di aula pesantren yang terletak di Kampung Guci, Nagari Lubuk Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung itu. HAUL kali ini mengangkat tema; "Menghargai Perbedaan Pendapat dalam Menumbuhkan Persatuan dan Kesatuan", menghadirkan sejumlah narasumber yang merupakan alumni dan keluarga Buya Abdullah Aminuddin, pendiri Pesantren Madrasatul 'Ulum.
Buya Abdullah Aminuddin yang lahir 1908 dan wafat 1996 ini, merupakan ulama besar yang mendirikan pesantren di Lubuk Pandan, Kabupaten Padang Pariaman pada 1940 M. Kini, pesantrennya itu telah mengalami pasang surut, sesuai perjalan zaman. Masrizal merasakan dirinya pernah punya testimoni khusus dengan Buya Abdullah Aminuddin pada saat dia merampungkan pendidikannya di perguruan tinggi.
"Datanglah ke surau," kata Buya Abdullah Aminuddin kepada Masrizal kala mengadu soal uang kuliah kepadanya, seperti yang diceritakan kembali oleh Masrizal. Lalu, Masrizal pun datang ke surau, yakni pesantren Madrasatul 'Ulum. Langsung masuk ke kamarnya yang saat itu diatas anjung. Diberinya buah kurma, kain sarung, dan emas.
Emas yang diberikan Buya Abdullah Aminuddin, cerita Masrizal, tak banyak. Tak cukup untuk membiayai uang kuliah sampai. Tetapi, Buya Abdullah Aminuddin menyuruhkan untuk memakai emas tersebut. "Pakai saja ini dulu," tegas Buya Abdullah Aminuudin, seperti diceritakan kembali oleh Masrizal.
Artinya, kata Masrizal, Buya Abdullah Aminuddin yang tiap hari dan waktu bergelud dengan santri dan santriwati, sangat mendukung langkah pendidikan umum yang dilakukan Masrizal. Dan itu pula yang dilakukan oleh banyak cucu Buya Abdullah Aminuddin lainnya. Ternyata dalam dunia penmdidikan, para cucunya telah banyak yang tamat pendidikan S-2.
Narasumber lainnya, Marulis Tuanku Mudo, alumni dari Kabupaten Solok, Bustami Tuanku Khatib, dari Tiku, Kabupaten Agam, Kamisin Datuak Batuah Nan Kuniang, dari Singgalang, Kabupaten Tanah Datar, Marzuki Tuanku Nan Basa, Pimpinan Madrasatul 'Ulum, dan Umar Tuanku Labai Bagindo dari Singgalang, Tanah Datar menyikapi berbagai persoalan yang pernah dialaminya bersama Buya Abdullah Aminuddin.
"Dalam agama, ayah kita itu ada tiga. Pertama ayah yang menyebabkan kita lahir kedunia. Kedua ayah istri atau suami kita, dan yang ketiga orang yang mengajar kita ilmu pengetahuan. Yang ketiga ini juga disebut sebagai ayah rohani," kata Marulis Tuanku Mudo, alumni yang pernah mendirikan Pesantren Madrasatul 'Ulum di Koto Buruak Lubuk Alung ini.
Marulis mengajak para alumni dan seluruh keluarga besar pesantren Madrasatul 'Ulum untuk selalu mengingat dan mengenang lembaga pendidikan yang pernah membesarkan diri santri dan alumni tersebut. "Sesempit apapun waktu kita, sesibuk apapun pekerjaan yang kita lakukan, sesekali luangkan waktu untuk datang kembali ke pesantren ini," ujar dia.
Kemudian, katanya lagi, amalkan seluruh ilmu dan kaji yang pernah dituntut bertahun-tahun di pesantren ini. "Silakan kita jadi anggota dewan, jadi walinagari, Ketua KAN, serta jadi tokoh lainnya di tengah masyarakat lingkungan kita, tetapi yang nama ilmu dari pesantren ini jangan pernah tinggalkan. Artinya, warnai lembaga yang kita geluti dengan nuansa pesantren," ungkap Marulis.
"Dalam menyikapi perbedaan cara pandang, kita jangan seperti beberap orang buta yang memegang gajah. Kita harus melihat dari berbagai sudut pandang, sehingga bisa objektif memandang persoalan yang tengah terjadi di tengah masyarakat," sambung Umar Tuanku Labai Bagindo. Hal yang hampir mirip juga dikemukakan Bustami Tuanku Khatib.
Kata dia, pengalaman Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah jadi Tuanku Khadi Pakandangan sangat luar biasa. Banyak pihak yang mencoba menggoyahkan pendiriannya soal khutbah Jumat, namun beliau tetap dalam pendiriannya. Dia memberikan jawaban yang diterima semua pihak. Tidak menyalahkan kelompok lain, yang berbeda cara pandang dengan dia.
Sementara Tuanku Afredison, alumni yang saat ini jadi anggota dewan Padang Pariaman memandang Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah sebagai seorang ulama yang tidak anti pemerintah, dan tidak anti pembaharuan. "Buktinya, saat saya jadi santri dan salah seorang guru tuo, pernah dilakukan pembaharuan dalam proses belajar mengajar di pesantren ini dengan belajar dalam kelas, pakai rapor dan tentunya juga pakai kuirikulum," cerita anggota dewan dari PKB ini.
"Dari Buya Abdullah Aminuddin pula saya belajar banyak berorganisasi. Dia ulama organisatoris. Saya pernah mendampinginya Musda PERTI di Kabupaten Limapuluh Kota bersama mendiang Buya Buchari Rauf," sebut Afredison.
Pimpinan Pesantren Madrasatul 'Ulum, Marzuki Tuanku Nan Basa menyampaikan terima kasih kepada seluruh alumni yang telah berpartisipasi penuh dalam acara HAUL yang diperingati setiap tahun tersebut. "Mari kita jadikan perbedaan pendapat, perbedaan cara pandang dalam beragama sebagai ajang membangun hubungan silaturrahim yang baik, menuju kebesaran jiwa dan pesantren ini," ungkapnya. (501)
Jumat, 14 Februari 2020
Cerita dari HPN Bajarmasin Ikhlas Bakri Melabrak, Segepok Buku Kebawa
Menara Pandang itu tampak cantik dan indah. Pantulan cahaya lampunya dari kejauhan di kala malam seolah ingin mempertahan pengunjung dan tak bisa berinsut dari tempat duduknya. Terutama pasangan muda mudi yang tengah berkisah dan bercerita antara yang satu dengan yang lainnya dari seberang Sungai Martapura.
Dikutip dari laman Tribunbalangan.com, Jumat 14 Februari 2020, Menara Pandang Banjarmasin diresmikan pada Juni 2014. Menara ini masih di lingkungan Siring Sungai Martapura, jalan Kapten Pierre Tendean Banjarmasin.
Menara ini memiliki empat lantai, luas bangunannya 1x36 meter, tinggi 31 meter, arsitektur bangunan Menara Pandang ini adalah khas Banjar. Lantai dasar tidak berdinding depan dan belakangnya, lantai dua dan tiga ada dindingnya, dan lantai empat paling atas tidak berdinding juga.
Jadi pengunjung yang datang naik ke atas menara bisa melihat pemandangan Sungai Martapura, gedung-gedung bertingkat di sekitar sungai dan pemandangan lainnya dari atas menara.
Momen Hari Pers Nasional (HPN) 2020, Pasar Terapung di Sungai Martapura, tak jauh dari Menara Pandang jadi destinasi wisata. Sebagai insan pers, rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Padang Pariaman dan Pemkab-nya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Malam Minggu, pas baru sampai di daerah yang terkenal dengan Seribu Sungai itu, rombongan menikmati malam di tepi Sungai Martapura.
Menurut Wikipedia, nama sungai ini diambil dari nama Kota Martapura, yang terletak di sebelah hulu Kota Banjarmasin. Nama Martapura diberikan oleh Raja Banjar ke-4 Sultan Mustain Billah sebagai ibu kota yang baru didirikan kira-kira pada tahun 1630 setelah dipindah dari Banjarmasin ke kawasan Kayutangi (terletak di sebelah hulu). Karena itu nama kuno sungai Martapura adalah sungai Kayutangi. Nama lainnya yang dahulu digunakan adalah Sungai Tatas, mengacu kepada delta Pulau Tatas, daerah yang pada 13 Agustus 1787 menjadi milik VOC-Belanda (kotta-Blanda) dan sekarang merupakan pusat Kota Banjarmasin modern. Nama lain Kota Banjarmasin adalah Kota Tatas.
Di komplek itu pula terletaknya Nol Kilometer. Lengkaplah kawasan ini jadi pusat keramaian. Air sungai yang keruh tak membuat orang bosan untuk mengujunginya. Hari Minggu, Pasar Terapung jadi pusat perhatian banyak orang. Lalu lintas perekonomian masyarakat tradisional yang menjual dan membeli dari atas perahu-perahu, menjadi daya tarik tersendiri.
Perut lapar. Itu cerita utama. Apalagi sehabis perjalan panjang lewat udara dan darat dari Padang Pariaman, pas tiba di lokasi HPN jelas mengundang untuk lekas pergi dari tempat penginapan untuk mencari yang namanya pengganjal perut agar jangan terlalu lama berbunyinya. Hanya saja, upaya untuk melihat kehidupan malam di pinggir Sungai Martapura, bersua banyak orang, ada yang kenal dan banyak pula yang tak saling kenal, membuat perbandingannya sama antara perut keroncongan dengan upaya melihat keingin-tahuan tersebut.
"Cari makan susah di sini," kata Gusfen Khairul, salah seorang petinggi PWI Sumatera Barat sesaat sebelum kami meninggal penginapan untuk pergi mencari makam malam. Rombongan dari Padang Pariaman terdiri dari Zahirman, Kadis Kominfo, Ikhlas Bakri, Penasehat PWI, Damanhuri, Ketua PWI, Idham Fadhil, Wakil Sekretaris PWI dan Suindra, Kasubag di Bagian Humas Setdakab Padang Pariaman.
Apa yang disampaikan Gusfen Khairul benar adanya. Setelah penat berjalan, dan nyaris mengelilingi kawasan Pasar Terapung, yang namanya warung nasi Padang tak bersua. Akhirnya, kami bersua warung nasi tak jauh dari penginapan. Malam mulai larut, selera makan pun berkurang karena ngantuk dan lelah tak bisa pula beranjak dari badan.
Hafal seluruh kampung
Adalah Ikhlas Bakri. Mantan Ketua PWI Padang Pariaman dan Kota Pariaman dua periode ini membuat perjalanan jadi enak dan menyenangkan. Di samping dia suka melawak, banyak cerita, dia juga hafal nama-nama kampung. Dan sedikit pandai pula berbahasa daerah yang disebutnya. Dengan ini, orang yang ditanyanya merasa susah untuk mengelak, dan malah meyakini kalau kampungnya memang berdekatan dengan kampungnya Ikhlas Bakri.
"Ini yang di depan jalan itu, dan terus di ujungnya ketemu dengan jalan ini, dan seterusnya," begitu Ikhlas untuk memecah kesunyian dalam mobil, memulai dialognya dengan sopir. "Dimana aslinya, Bang," tanya Ikhlas. "Saya Solo, misalnya jawab sang sopir. Ikhlas langsung menambahkan, kalau dia orang yang kampungnya dekat dari Solo itu. Dia sebutlah tempat ini dan itu, serta lokasi lain yang kemungkinan sopir itu tahu dengan hal yang disebutnya.
Begitu pula saat diskusi dan berkenalan dengan wartawan daerah lain. Ikhlas tak pernah kehilangan akal untuk ingin bisa dekat dan akrap dengan orang bersangkutan. Apalagi kalau bersua dengan orang yang memang kenal dan sudah lama tak jumpa, cerita akan lain. Bisa dia berlama-lama, membuka cerita inilah dan itulah.
Itulah barangkali ciri khas seorang Ikhlas Bakri. Orangnya banyak teman dan kenalan. Luas jaringan dan jangkauan. Barangkali tema HPN kali ini; Menggelorakan Kalimatan Selatan sebagai Ibu Kota Negara akan membuat Ikhlas Bakri lebih leluasa berselancar, mengkalkulasikan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, bila Ibu Kota Negara telah berada di Kalimatan Timur, seperti yang sudah dicetuskan Presiden Joko Widodo.
Bagi Ikhlas Bakri tak ada urusan yang tidak bisa di selesaikan. Semua bisa dilakukannya. Contoh kecil, saat minta tanda tangan SPPD ke Panitia Nasional HPN, kita hanya dikasih buku satu seorang oleh yang memberi tanda tangan, Ikhlas Bakri langsung melabrak ini, dan akhirnya kami bisa membawa segepok buku yang diterbitkan Panitia HPN Bajarmasin.
"Hebat, Ketua," kata saya. "Oh, kalau soal (mengurus berbagai hal) itu sudah lama saya hebatnya," jawab dia. Jawabnya itu membuat kita geli dan tak tahan ketawa kadang-kadang.
Dikutip dari laman Tribunbalangan.com, Jumat 14 Februari 2020, Menara Pandang Banjarmasin diresmikan pada Juni 2014. Menara ini masih di lingkungan Siring Sungai Martapura, jalan Kapten Pierre Tendean Banjarmasin.
Menara ini memiliki empat lantai, luas bangunannya 1x36 meter, tinggi 31 meter, arsitektur bangunan Menara Pandang ini adalah khas Banjar. Lantai dasar tidak berdinding depan dan belakangnya, lantai dua dan tiga ada dindingnya, dan lantai empat paling atas tidak berdinding juga.
Jadi pengunjung yang datang naik ke atas menara bisa melihat pemandangan Sungai Martapura, gedung-gedung bertingkat di sekitar sungai dan pemandangan lainnya dari atas menara.
Momen Hari Pers Nasional (HPN) 2020, Pasar Terapung di Sungai Martapura, tak jauh dari Menara Pandang jadi destinasi wisata. Sebagai insan pers, rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Padang Pariaman dan Pemkab-nya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Malam Minggu, pas baru sampai di daerah yang terkenal dengan Seribu Sungai itu, rombongan menikmati malam di tepi Sungai Martapura.
Menurut Wikipedia, nama sungai ini diambil dari nama Kota Martapura, yang terletak di sebelah hulu Kota Banjarmasin. Nama Martapura diberikan oleh Raja Banjar ke-4 Sultan Mustain Billah sebagai ibu kota yang baru didirikan kira-kira pada tahun 1630 setelah dipindah dari Banjarmasin ke kawasan Kayutangi (terletak di sebelah hulu). Karena itu nama kuno sungai Martapura adalah sungai Kayutangi. Nama lainnya yang dahulu digunakan adalah Sungai Tatas, mengacu kepada delta Pulau Tatas, daerah yang pada 13 Agustus 1787 menjadi milik VOC-Belanda (kotta-Blanda) dan sekarang merupakan pusat Kota Banjarmasin modern. Nama lain Kota Banjarmasin adalah Kota Tatas.
Di komplek itu pula terletaknya Nol Kilometer. Lengkaplah kawasan ini jadi pusat keramaian. Air sungai yang keruh tak membuat orang bosan untuk mengujunginya. Hari Minggu, Pasar Terapung jadi pusat perhatian banyak orang. Lalu lintas perekonomian masyarakat tradisional yang menjual dan membeli dari atas perahu-perahu, menjadi daya tarik tersendiri.
Perut lapar. Itu cerita utama. Apalagi sehabis perjalan panjang lewat udara dan darat dari Padang Pariaman, pas tiba di lokasi HPN jelas mengundang untuk lekas pergi dari tempat penginapan untuk mencari yang namanya pengganjal perut agar jangan terlalu lama berbunyinya. Hanya saja, upaya untuk melihat kehidupan malam di pinggir Sungai Martapura, bersua banyak orang, ada yang kenal dan banyak pula yang tak saling kenal, membuat perbandingannya sama antara perut keroncongan dengan upaya melihat keingin-tahuan tersebut.
"Cari makan susah di sini," kata Gusfen Khairul, salah seorang petinggi PWI Sumatera Barat sesaat sebelum kami meninggal penginapan untuk pergi mencari makam malam. Rombongan dari Padang Pariaman terdiri dari Zahirman, Kadis Kominfo, Ikhlas Bakri, Penasehat PWI, Damanhuri, Ketua PWI, Idham Fadhil, Wakil Sekretaris PWI dan Suindra, Kasubag di Bagian Humas Setdakab Padang Pariaman.
Apa yang disampaikan Gusfen Khairul benar adanya. Setelah penat berjalan, dan nyaris mengelilingi kawasan Pasar Terapung, yang namanya warung nasi Padang tak bersua. Akhirnya, kami bersua warung nasi tak jauh dari penginapan. Malam mulai larut, selera makan pun berkurang karena ngantuk dan lelah tak bisa pula beranjak dari badan.
Hafal seluruh kampung
Adalah Ikhlas Bakri. Mantan Ketua PWI Padang Pariaman dan Kota Pariaman dua periode ini membuat perjalanan jadi enak dan menyenangkan. Di samping dia suka melawak, banyak cerita, dia juga hafal nama-nama kampung. Dan sedikit pandai pula berbahasa daerah yang disebutnya. Dengan ini, orang yang ditanyanya merasa susah untuk mengelak, dan malah meyakini kalau kampungnya memang berdekatan dengan kampungnya Ikhlas Bakri.
"Ini yang di depan jalan itu, dan terus di ujungnya ketemu dengan jalan ini, dan seterusnya," begitu Ikhlas untuk memecah kesunyian dalam mobil, memulai dialognya dengan sopir. "Dimana aslinya, Bang," tanya Ikhlas. "Saya Solo, misalnya jawab sang sopir. Ikhlas langsung menambahkan, kalau dia orang yang kampungnya dekat dari Solo itu. Dia sebutlah tempat ini dan itu, serta lokasi lain yang kemungkinan sopir itu tahu dengan hal yang disebutnya.
Begitu pula saat diskusi dan berkenalan dengan wartawan daerah lain. Ikhlas tak pernah kehilangan akal untuk ingin bisa dekat dan akrap dengan orang bersangkutan. Apalagi kalau bersua dengan orang yang memang kenal dan sudah lama tak jumpa, cerita akan lain. Bisa dia berlama-lama, membuka cerita inilah dan itulah.
Itulah barangkali ciri khas seorang Ikhlas Bakri. Orangnya banyak teman dan kenalan. Luas jaringan dan jangkauan. Barangkali tema HPN kali ini; Menggelorakan Kalimatan Selatan sebagai Ibu Kota Negara akan membuat Ikhlas Bakri lebih leluasa berselancar, mengkalkulasikan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, bila Ibu Kota Negara telah berada di Kalimatan Timur, seperti yang sudah dicetuskan Presiden Joko Widodo.
Bagi Ikhlas Bakri tak ada urusan yang tidak bisa di selesaikan. Semua bisa dilakukannya. Contoh kecil, saat minta tanda tangan SPPD ke Panitia Nasional HPN, kita hanya dikasih buku satu seorang oleh yang memberi tanda tangan, Ikhlas Bakri langsung melabrak ini, dan akhirnya kami bisa membawa segepok buku yang diterbitkan Panitia HPN Bajarmasin.
"Hebat, Ketua," kata saya. "Oh, kalau soal (mengurus berbagai hal) itu sudah lama saya hebatnya," jawab dia. Jawabnya itu membuat kita geli dan tak tahan ketawa kadang-kadang.
Rabu, 05 Februari 2020
Pelaminan Pengantin di Luar Rumah Betentangan dengan Adat Minangkabau
Pariaman--Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus memperkuat nilai-nilai agama, kebangsaan dan adat yang berlaku di tengah masyarakat. Apalagi di zaman melineal 4.0 di tengah tantangan kehidupan yang terus meningkat.
Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman Muhammad Nur, Senin (3/2) ketika membuka Seminar Adat yang diselenggarakan PK PMII Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sumbar, di aula SKB Rawang, Kota Pariaman. Menurut Muhammad Nur, kegiatan seminar adat ini sangat tepat dan penting dilakukan PMII.
“Karena itu, kita patut memberikan apresiasi kepada PMII yang sudah memperkuat nilai-nilai adat melalui seminar ini. Apalagi pesertanya dari mahasiswa, pelajar SMA dan guru di sekolah,” kata Muhammad Nur, mantan Ketua PC GP Ansor Kota Pariaman ini.
Narasumber seminar tokoh adat Minang Musradahrizal Katik Rajo Mangkuto mengatakan, banyak kalangan yang tidak paham dalam prosesi pesta pernikahan menurut adat Minang saat ini. Pelaminan pengantin yang berada di luar rumah, bahkan di jalan pun yang disulap jadi tempat pengantin. Padahal dalam adat Minang, pelaminan pengantin tersebut haruslah di dalam rumah.
“Ketika pertama kali ada permintaan mengadakan pesta pernikahan di gedung pertemuan di Kota Padang dulunya, para niniak mamak mengizinkan dengan syarat tetap juga ada pelaminan mini di rumah pengantin perempuan," kata dia.
Pelaminan di luar rumah, ujarnya, sama sekali tidak dibenarkan. "Kalau pun sekarang terpaksa pelaminan di luar rumah dengan alasan tertentu, harusnya tetap ada pelaminan di dalam rumah dengan ukuran lebih kecil,” kata Mak Katik Rajo Mangkuto yang pernah mengajar di Hawai University dan sudah memperkenalkan adat Minang ke lima benua.
Ketua Komisariat PMII STIE Sumbar Hari Yanto menyebutkan, seminar bertemakan, "Revitalisasi Pemahaman Adat dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0. Seminar dipandu Anggota Pengurus Dewan Pendidikan Kota Pariaman Armaidi Tanjung. Turut memberikan sambutan Ketua PC PMII Kota Pariaman Khairul Rianda dan hadir mantan Ketua PC PMII Kota Pariaman Idris, Masrizal dan Rizka Adila. (501)
Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman Muhammad Nur, Senin (3/2) ketika membuka Seminar Adat yang diselenggarakan PK PMII Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sumbar, di aula SKB Rawang, Kota Pariaman. Menurut Muhammad Nur, kegiatan seminar adat ini sangat tepat dan penting dilakukan PMII.
“Karena itu, kita patut memberikan apresiasi kepada PMII yang sudah memperkuat nilai-nilai adat melalui seminar ini. Apalagi pesertanya dari mahasiswa, pelajar SMA dan guru di sekolah,” kata Muhammad Nur, mantan Ketua PC GP Ansor Kota Pariaman ini.
Narasumber seminar tokoh adat Minang Musradahrizal Katik Rajo Mangkuto mengatakan, banyak kalangan yang tidak paham dalam prosesi pesta pernikahan menurut adat Minang saat ini. Pelaminan pengantin yang berada di luar rumah, bahkan di jalan pun yang disulap jadi tempat pengantin. Padahal dalam adat Minang, pelaminan pengantin tersebut haruslah di dalam rumah.
“Ketika pertama kali ada permintaan mengadakan pesta pernikahan di gedung pertemuan di Kota Padang dulunya, para niniak mamak mengizinkan dengan syarat tetap juga ada pelaminan mini di rumah pengantin perempuan," kata dia.
Pelaminan di luar rumah, ujarnya, sama sekali tidak dibenarkan. "Kalau pun sekarang terpaksa pelaminan di luar rumah dengan alasan tertentu, harusnya tetap ada pelaminan di dalam rumah dengan ukuran lebih kecil,” kata Mak Katik Rajo Mangkuto yang pernah mengajar di Hawai University dan sudah memperkenalkan adat Minang ke lima benua.
Ketua Komisariat PMII STIE Sumbar Hari Yanto menyebutkan, seminar bertemakan, "Revitalisasi Pemahaman Adat dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0. Seminar dipandu Anggota Pengurus Dewan Pendidikan Kota Pariaman Armaidi Tanjung. Turut memberikan sambutan Ketua PC PMII Kota Pariaman Khairul Rianda dan hadir mantan Ketua PC PMII Kota Pariaman Idris, Masrizal dan Rizka Adila. (501)
Terkait Percepatan Pembangunan Pemkab Padang Pariaman Berkomitmen Mempercepat Proses Lelang
Padang Pariaman--Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman berkomitmen mempercepat proses lelang pengadaan barang dan jasa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2020 untuk mendukung percepatan pembangunan di wilayahnya.
Menurut Inspektur Hendra Aswara, strateginya adalah dengan melakukan percepatan proses pengadaan. Adapun targetnya pada akhir Maret proses pengadaan itu semuanya sudah selesai.
Kata dia, percepatan proses lelang ini perlu dilakukan agar pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Inspektorat akan mengawal dan melakukan probity audit terhadap proses tender tersebut. Selain itu juga sebagai salah satu upaya dalam menjaga kualitas pembangunan Kabupaten Padang Parianan khususnya di bidang fisik.
"Pertemuan Inspektorat dan Bagian LPBJ untuk memastikan percepatan proses pelelangan, sehingga pada akhir 2020 tidak ada pekerjaan yang tidak selesai,” ujar Hendra.
Ia beralasan, apabila proses tender atau pengadaan di akhir Maret selesai, maka kegiatan-kegiatan fisik ini punya waktu yang lebih lama. Tidak terkesan terburu-buru pekerjaan fisiknya sehingga kualitasnya bisa terjaga. Jadi pembangunan bisa cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ditambahkannya, bahwa proses lelang sudah dimulai. Hingga saat ini sudah 11 paket pelelangan yang telah ditayangkan, terdiri dari tiga paket konsultansi dan delapan paket konstruksi. "Lelang paket konsultansi pengawasan untuk pembangunan jembatan sikabujuga sudah diumumkan," ungkapnya. (501)
Menurut Inspektur Hendra Aswara, strateginya adalah dengan melakukan percepatan proses pengadaan. Adapun targetnya pada akhir Maret proses pengadaan itu semuanya sudah selesai.
Kata dia, percepatan proses lelang ini perlu dilakukan agar pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Inspektorat akan mengawal dan melakukan probity audit terhadap proses tender tersebut. Selain itu juga sebagai salah satu upaya dalam menjaga kualitas pembangunan Kabupaten Padang Parianan khususnya di bidang fisik.
"Pertemuan Inspektorat dan Bagian LPBJ untuk memastikan percepatan proses pelelangan, sehingga pada akhir 2020 tidak ada pekerjaan yang tidak selesai,” ujar Hendra.
Ia beralasan, apabila proses tender atau pengadaan di akhir Maret selesai, maka kegiatan-kegiatan fisik ini punya waktu yang lebih lama. Tidak terkesan terburu-buru pekerjaan fisiknya sehingga kualitasnya bisa terjaga. Jadi pembangunan bisa cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ditambahkannya, bahwa proses lelang sudah dimulai. Hingga saat ini sudah 11 paket pelelangan yang telah ditayangkan, terdiri dari tiga paket konsultansi dan delapan paket konstruksi. "Lelang paket konsultansi pengawasan untuk pembangunan jembatan sikabujuga sudah diumumkan," ungkapnya. (501)
Sabtu, 01 Februari 2020
Inspektorat Padang Pariaman Gelar Bimtek Probity Audit
Padang Pariaman--Tim Audit Inspektorat Kabupaten Padang Pariaman mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) probity audit atas pengadaan barang dan jasa. Bimtek dilaksanakan selama dua hari, 30-31 Januari di ruang rapat Inspektorat.
Bimtek tersebut dibuka secara resmi oleh Inspektur Hendra Aswara dan dihadiri Kabid APD Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sumbar, Jun Suwarno sebagai narasumber.
"Dengan Bimtek hari ini paradigma kita harus berubah, tidak selalu menganggap bahwa fungsi auditor hanya sebatas pengawasan, tapi juga pendampingan," kata Hendra.
Terkait probity, Hendra menyederhanakannya dengan kejujuran, yakni audit terhadap kejujuran khususnya terkait pengadaan barang dan jasa mulai perencanaan hingga pengawasan. "Probity audit (PA) konsennya pengadaan barang dan jasa. Mari kita pastikan bahwa memenuhi persyaratan/selevel juga melalui proses yang benar, sehingga ketika diimplementasikan bukan hanya selesai saja tapi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," tegas pejabat eselon dua termuda di Sumbar ini.
Pada kesempatan tersebut, Hendra juga menegaskan, bahwa sesungguhnya sebagai aparat negara bukan sekadar menghabiskan anggaran tapi memastikan anggaran tersebut bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara Kabid APD BPKP Sumbar, Jun Suwarno menyampaikan arahan dan harapan. "Dengan dilaksanakannya Bimtek probity audit pengadaan barang dan jasa di lingkungan Inspektorat ini, hendaknya dapat meningkatkan pemahaman para auditor," kata dia.
Menurutnya, probity audit pengadaan barang/jasa dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah Padang Pariaman akan berdampak pada pengambilan keputusan dalam memperbaiki perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan pengadaan barang/jasa agar lebih efektif, efisien, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif serta akuntabel.
"Kita apresiasi Inspektorat Padang Pariaman yang cepat tanggap dalam menyelenggaraan Bimtek PA di awal tahun," kata Jun Suwarno. (501)
--------------------------------------
IKPS Bangun Masjid Akbar Berkonsep Islamic Centre
Sungai Limau, Singgalang
Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni mengapresiasi IKPS yang telah memberikan warna tersendiri untuk daerah, dengan hadirnya masjid yang berkualitas Islamic Centre.
"Alhamdulillah, kita dari pemerintah daerah sangat bangga dan senang dengan hadirnya Masjid Islamic Centre di daerah ini," kata Ali Mukhni usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid, Rabu lalu di Sungai Sirah, Kecamatan Sungai Limau.
Menurut Ali Mukhni, terwujudnya masjid yang bernuansa islamic center itu akan dapat mencetak generasi muda yang cinta Alquran. Masjid yang akan dibangun, selain tempat ibadah juga digunakan untuk mencetak generasi muda penghafal Alquran.
"Untuk itu tujuan baik yang dilakukan IKPS ini perlu hendaknya didukung bersama-sama untuk mempercepat pembangunan masjid tersebut," ulas Bupati Ali Mukhni.
Pada kesempatan itu, keluarga besar Ali Mukhni atas nama pribadi memberikan sumbangan Rp10 juta untuk pembangunan masjid itu. Selain itu, sumbangan dari beberpa perantau dan warga setempat yang ikut berpartisipasi dalam pembangunana itu terkumpul sebesar Rp1 miliar. Ikatan Keluarga Alumni Pelajar Sungai Limau (IKPS) memulai pembangunan masjid dengan konsep islamic centre di Kecamatan Sungai Limau itu akan menelan anggaran awal Rp5 miliar.
Ketua Umum IKPS Jayanis mengatakan, pembangunan ini akan dilakukan dalam anggaran bertahap. Pembangunan masjid IKPS dengan konsep islamic centre itu sesuai dengan program kerja IKPS yang telah di rencanakan. "Total anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan ini Rp5 miliar yang terbagi dalam beberapa tahapan tahapan. Masing-masing anggaran, tahun 2020 sebesar Rp5 miliar dan tahun berikutnya disesuaikan dengan kondisi anggaran yang ada," kata Jayanis
Menurut Jayanis, masjid yang akan dibangun dilengkapi bangunan fisik, yaitu Masjid Akbar seluas 3.000 meter persegi. Gedung serbaguna dan gedung kajian Islam. Hal ini tidak tertutup kemungkinan keluasan tanah akan bertambah, yang akan diberikan secara hibah oleh masyarakat.
“Total bangunan fisik yang dibangun seluas 300 meter persegi. Selebihnya akan digunakan untuk rest area dan sentra UKM. Kami berharap tempat ini ramai dan memberikan manfaat ekonomi untuk masyarakat sekitarnya," kata dia.
Menurutnya, agar masjid islamic centre yang bakal dibangun ini tidak lepas dari yang sudah direncanakan bersama anggota IKPS dan warga. Termasuk segala teknik konstruksinya yang dibangun oleh kontraktor yang akan mengerjakan. “Kita minta kepada anggota IKPS dan warga untuk dapat bergandengan tangan dalam mewujudkan pembangunanan ini," sebutnya. (501)
------------------------------------------
Bencana Bisa Datang Kapan Saja, Masyarakat Diminta Terus Waspada
Padang Pariaman, Singgalang
Beberapa minggu terakhir ini wilayah Kabupaten Padang Pariaman sangat sering menghadapi cuaca ekstrim, seperti curah hujan yang sangat tinggi, angin kencang dan tanah lonsor.
Sebagai daerah yang secara geografis terdiri dari perbukitan, lautan dan perairan sungai, Padang Pariaman sangat rawan bencana. Warga perlu waspada karna bencana bisa datang kapan saja.
Oleh karena itu, Bupati Ali Mukhni selalu mengingatkan dan mengingtruksikan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran dan Dinas Sosial agar selalu proaktif dan cepat tanggap bersama pemerintahan kecamatan dan nagari terhadap kondisi di lapangan.
"Saat ini kita bersama OPD terkait sudah mendata daerah-daerah terdampak bencana, yang tentunya perlu penanganan, baik infrastruktur maupun sosial kemasyarakatannya. Kita sudah memasukan surat permohonan bantuan sekaligus laporan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dinas PU Provinsi serta pihak Wilayah Balai dan Sungai untuk bisa membantu menangani daerah terdampak bencana yg tidak mampu kita tangani dana APBD Padang Pariaman," ujarnya.
Ali Mukhni pun mengajak dan menghimbau seluruh masyarakat untuk selalu waspada dan berdoa serta selalu mendekatkan dri kepada Allah Yang Mahakuasa. "Semoga bencana dijauhkan dari daerah kita dan semua usaha kita diridhoi oleh Allah Yang Mahaagung, aamiin," katanya lagi. (501)
-------------------------------------------
HKN ke-60 Padang Pariaman Ditandai Hadirnya Duta Gizi di Sekolah
Padang Pariaman, Singgalang
Kegiatan peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-60 tahun 2020 tingkat Kabupaten Padang Pariaman berlangsung di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 02 Padang Pariaman sebagai wilayah kerja Puskesmas Pauh Kambar, Kecamatan Nan Sabaris, Rabu lalu.
Pada kesempatan itu dilaksanakan pengukuhan Duta Gizi, Kampanye Gizi Seimbang, Kampanye Germas Hidup Sehat pada remaja, pencanangan komitmen oleh Kepala Sekolah MTSN 02 Padang Pariaman, penyuluhan sarapan sehat serta bagi-bagi buah dan sayur kepada siswa MTSN 02.
Peringatan HGN ke-60 ini bertema "Gizi Optimal untuk Generasi Milenial". Guna mewujudkan generasi milenial yang sadar gizi ini telah dilaksanakan sejumlah kegiatan tingkat kecamatan. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan, H. Yutiardy Rivai yang diwakili Sekretaris Dinkes H. Firdaus, Kabid Kesmas Hj. Nurhayati Mila, Kasi Kesga Gizi, Pengelola Gizi, Kepala Puskesmas Pauh Kambar beserta petugas gizi dan tim serta Kepala MTsN 02 beserta jajaran.
Kepala Dinas Kesehatan menyebutkan, tujuan peringatan HGN ke-60 ini antara lain meningkatkan pengetahuan dan peran aktif masyarakat khususnya generasi milenial, tentang kesehatan dan gizi, menyebarluaskan informasi dan promosi kepada masyarakat tentang pentingnya gizi yang optimal dalam pembangunan SDM yang berkualitas.
Selanjutnya, meningkatkan peran media massa dalam kampanye gizi remaja sebagai salah satu upaya penanggulangan stunting, meningkatkan komitmen dan kerja sama antara pemerintah, baik sektor kesehatan maupun non kesehatan, di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota serta swasta dalam kesehatan dan gizi.
Rangkaian kegiatan HGN yang dilaksanakan pada MTsN 02 ini di antaranya: pengukuhan duta gizi yang telah dibentuk pada madrasah ini yang akan bertugas sebagai motivator dan contoh untuk siswa-siswi lainnya di lingkungan madrasah, serta mengajak generasi milenial supaya sadar gizi.
"Kita sangat mengapresiasi madrasah ini. Melalui duta gizi kita bisa ciptakan generasi yang sehat, bebas anemia dan berprestasi tinggi," kata Kadinkes sebagaimana dikemukakan Sekdinkes Firdaus.
Pengukuhan duta gizi (8 orang) ditandai dengan pemasangan pin dan selempang duta gizi oleh Kepala Dinas Kesehatan yang didampingi Kabid Kesmas, Kepala MTsN, Kepala Puskesmas, Kasi dan Pengelola Gizi. Selain itu juga diadakan pencanangan dan komitmen Kepala MTsN 02 yang akan melaksanakan kegiatan sarapan sehat bersama pada siswa-siswi madrasah tersebut. (501)
Bimtek tersebut dibuka secara resmi oleh Inspektur Hendra Aswara dan dihadiri Kabid APD Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sumbar, Jun Suwarno sebagai narasumber.
"Dengan Bimtek hari ini paradigma kita harus berubah, tidak selalu menganggap bahwa fungsi auditor hanya sebatas pengawasan, tapi juga pendampingan," kata Hendra.
Terkait probity, Hendra menyederhanakannya dengan kejujuran, yakni audit terhadap kejujuran khususnya terkait pengadaan barang dan jasa mulai perencanaan hingga pengawasan. "Probity audit (PA) konsennya pengadaan barang dan jasa. Mari kita pastikan bahwa memenuhi persyaratan/selevel juga melalui proses yang benar, sehingga ketika diimplementasikan bukan hanya selesai saja tapi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," tegas pejabat eselon dua termuda di Sumbar ini.
Pada kesempatan tersebut, Hendra juga menegaskan, bahwa sesungguhnya sebagai aparat negara bukan sekadar menghabiskan anggaran tapi memastikan anggaran tersebut bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara Kabid APD BPKP Sumbar, Jun Suwarno menyampaikan arahan dan harapan. "Dengan dilaksanakannya Bimtek probity audit pengadaan barang dan jasa di lingkungan Inspektorat ini, hendaknya dapat meningkatkan pemahaman para auditor," kata dia.
Menurutnya, probity audit pengadaan barang/jasa dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah Padang Pariaman akan berdampak pada pengambilan keputusan dalam memperbaiki perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan pengadaan barang/jasa agar lebih efektif, efisien, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif serta akuntabel.
"Kita apresiasi Inspektorat Padang Pariaman yang cepat tanggap dalam menyelenggaraan Bimtek PA di awal tahun," kata Jun Suwarno. (501)
--------------------------------------
IKPS Bangun Masjid Akbar Berkonsep Islamic Centre
Sungai Limau, Singgalang
Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni mengapresiasi IKPS yang telah memberikan warna tersendiri untuk daerah, dengan hadirnya masjid yang berkualitas Islamic Centre.
"Alhamdulillah, kita dari pemerintah daerah sangat bangga dan senang dengan hadirnya Masjid Islamic Centre di daerah ini," kata Ali Mukhni usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid, Rabu lalu di Sungai Sirah, Kecamatan Sungai Limau.
Menurut Ali Mukhni, terwujudnya masjid yang bernuansa islamic center itu akan dapat mencetak generasi muda yang cinta Alquran. Masjid yang akan dibangun, selain tempat ibadah juga digunakan untuk mencetak generasi muda penghafal Alquran.
"Untuk itu tujuan baik yang dilakukan IKPS ini perlu hendaknya didukung bersama-sama untuk mempercepat pembangunan masjid tersebut," ulas Bupati Ali Mukhni.
Pada kesempatan itu, keluarga besar Ali Mukhni atas nama pribadi memberikan sumbangan Rp10 juta untuk pembangunan masjid itu. Selain itu, sumbangan dari beberpa perantau dan warga setempat yang ikut berpartisipasi dalam pembangunana itu terkumpul sebesar Rp1 miliar. Ikatan Keluarga Alumni Pelajar Sungai Limau (IKPS) memulai pembangunan masjid dengan konsep islamic centre di Kecamatan Sungai Limau itu akan menelan anggaran awal Rp5 miliar.
Ketua Umum IKPS Jayanis mengatakan, pembangunan ini akan dilakukan dalam anggaran bertahap. Pembangunan masjid IKPS dengan konsep islamic centre itu sesuai dengan program kerja IKPS yang telah di rencanakan. "Total anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan ini Rp5 miliar yang terbagi dalam beberapa tahapan tahapan. Masing-masing anggaran, tahun 2020 sebesar Rp5 miliar dan tahun berikutnya disesuaikan dengan kondisi anggaran yang ada," kata Jayanis
Menurut Jayanis, masjid yang akan dibangun dilengkapi bangunan fisik, yaitu Masjid Akbar seluas 3.000 meter persegi. Gedung serbaguna dan gedung kajian Islam. Hal ini tidak tertutup kemungkinan keluasan tanah akan bertambah, yang akan diberikan secara hibah oleh masyarakat.
“Total bangunan fisik yang dibangun seluas 300 meter persegi. Selebihnya akan digunakan untuk rest area dan sentra UKM. Kami berharap tempat ini ramai dan memberikan manfaat ekonomi untuk masyarakat sekitarnya," kata dia.
Menurutnya, agar masjid islamic centre yang bakal dibangun ini tidak lepas dari yang sudah direncanakan bersama anggota IKPS dan warga. Termasuk segala teknik konstruksinya yang dibangun oleh kontraktor yang akan mengerjakan. “Kita minta kepada anggota IKPS dan warga untuk dapat bergandengan tangan dalam mewujudkan pembangunanan ini," sebutnya. (501)
------------------------------------------
Bencana Bisa Datang Kapan Saja, Masyarakat Diminta Terus Waspada
Padang Pariaman, Singgalang
Beberapa minggu terakhir ini wilayah Kabupaten Padang Pariaman sangat sering menghadapi cuaca ekstrim, seperti curah hujan yang sangat tinggi, angin kencang dan tanah lonsor.
Sebagai daerah yang secara geografis terdiri dari perbukitan, lautan dan perairan sungai, Padang Pariaman sangat rawan bencana. Warga perlu waspada karna bencana bisa datang kapan saja.
Oleh karena itu, Bupati Ali Mukhni selalu mengingatkan dan mengingtruksikan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran dan Dinas Sosial agar selalu proaktif dan cepat tanggap bersama pemerintahan kecamatan dan nagari terhadap kondisi di lapangan.
"Saat ini kita bersama OPD terkait sudah mendata daerah-daerah terdampak bencana, yang tentunya perlu penanganan, baik infrastruktur maupun sosial kemasyarakatannya. Kita sudah memasukan surat permohonan bantuan sekaligus laporan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dinas PU Provinsi serta pihak Wilayah Balai dan Sungai untuk bisa membantu menangani daerah terdampak bencana yg tidak mampu kita tangani dana APBD Padang Pariaman," ujarnya.
Ali Mukhni pun mengajak dan menghimbau seluruh masyarakat untuk selalu waspada dan berdoa serta selalu mendekatkan dri kepada Allah Yang Mahakuasa. "Semoga bencana dijauhkan dari daerah kita dan semua usaha kita diridhoi oleh Allah Yang Mahaagung, aamiin," katanya lagi. (501)
-------------------------------------------
HKN ke-60 Padang Pariaman Ditandai Hadirnya Duta Gizi di Sekolah
Padang Pariaman, Singgalang
Kegiatan peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-60 tahun 2020 tingkat Kabupaten Padang Pariaman berlangsung di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 02 Padang Pariaman sebagai wilayah kerja Puskesmas Pauh Kambar, Kecamatan Nan Sabaris, Rabu lalu.
Pada kesempatan itu dilaksanakan pengukuhan Duta Gizi, Kampanye Gizi Seimbang, Kampanye Germas Hidup Sehat pada remaja, pencanangan komitmen oleh Kepala Sekolah MTSN 02 Padang Pariaman, penyuluhan sarapan sehat serta bagi-bagi buah dan sayur kepada siswa MTSN 02.
Peringatan HGN ke-60 ini bertema "Gizi Optimal untuk Generasi Milenial". Guna mewujudkan generasi milenial yang sadar gizi ini telah dilaksanakan sejumlah kegiatan tingkat kecamatan. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan, H. Yutiardy Rivai yang diwakili Sekretaris Dinkes H. Firdaus, Kabid Kesmas Hj. Nurhayati Mila, Kasi Kesga Gizi, Pengelola Gizi, Kepala Puskesmas Pauh Kambar beserta petugas gizi dan tim serta Kepala MTsN 02 beserta jajaran.
Kepala Dinas Kesehatan menyebutkan, tujuan peringatan HGN ke-60 ini antara lain meningkatkan pengetahuan dan peran aktif masyarakat khususnya generasi milenial, tentang kesehatan dan gizi, menyebarluaskan informasi dan promosi kepada masyarakat tentang pentingnya gizi yang optimal dalam pembangunan SDM yang berkualitas.
Selanjutnya, meningkatkan peran media massa dalam kampanye gizi remaja sebagai salah satu upaya penanggulangan stunting, meningkatkan komitmen dan kerja sama antara pemerintah, baik sektor kesehatan maupun non kesehatan, di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota serta swasta dalam kesehatan dan gizi.
Rangkaian kegiatan HGN yang dilaksanakan pada MTsN 02 ini di antaranya: pengukuhan duta gizi yang telah dibentuk pada madrasah ini yang akan bertugas sebagai motivator dan contoh untuk siswa-siswi lainnya di lingkungan madrasah, serta mengajak generasi milenial supaya sadar gizi.
"Kita sangat mengapresiasi madrasah ini. Melalui duta gizi kita bisa ciptakan generasi yang sehat, bebas anemia dan berprestasi tinggi," kata Kadinkes sebagaimana dikemukakan Sekdinkes Firdaus.
Pengukuhan duta gizi (8 orang) ditandai dengan pemasangan pin dan selempang duta gizi oleh Kepala Dinas Kesehatan yang didampingi Kabid Kesmas, Kepala MTsN, Kepala Puskesmas, Kasi dan Pengelola Gizi. Selain itu juga diadakan pencanangan dan komitmen Kepala MTsN 02 yang akan melaksanakan kegiatan sarapan sehat bersama pada siswa-siswi madrasah tersebut. (501)
Langganan:
Postingan (Atom)



























