Pariaman--Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin melepas keberangkatan seorang tenaga pengajarnya, Reflianto ke Canada, Sabtu (15/11). Selain dosen, Reflianto sekaligus Kepala Lembaga Penelitan dan Jurnal STIT SB.
Proudly Say: Congratulation to Mr. Reflianto (Head of R & D / LP2M) to Have Admission on Short Course Community Outreach Program of MORA-RI to Mc Gill University Institute of Ottawa Goverment (IOG) and CBBR of Kitchener in Canada.
Keberangkatan ini dibiayai oleh Kementerian Agama RI melalui Program Peningkatan Kualitas Penelitian Dosen di Institusi Pendidikan Islam. Reflianto terpilih berdasarkan hasil seleksi administrasi proposal. Dari ratusan pemohon, terpilih 23 orang untuk mengikuti seleksi akhir di Bandung.
Dari 23 orang tersebut, hanya dua dari Sumatera Barat. Setelah mengikuti seleksi akhir, 15 orang dinyatakan lulus untuk mengikuti Short Course Community Outreach ke Canada. Reflianto dipercaya sebagai sekretaris tim.
Dalam acara syukuran keberangkatan Reflianto yang dihadiri oleh Civitas Akademika STIT SB dan Yayasan Islamic Centre, Ketua STIT SB Irdas Raja mengingatkan Reflianto untuk memamfaatkan peluang ini sebesar-besarnya, termasuk untuk memperkenalkan STIT SB ke dunia internasional. Antara lain dengan menjalin kerjasama di bidang pendidikan dan penelitian dengan Mc Gill University Institute of Ottawa Goverment and CBBR of Kitchener in Canada.
Kepada dosen-dosen STIT SB, Irdas Raja meminta agar menjadikan momen ini sebagai motivasi untuk mengikuti penelitian kompetitif program subdit penelitian Kemenag RI lebih intens lagi dan langkah awal STIT menuju perguruan tinggi swasta terbaik di Sumatera.
Pada kesempatan itu, Sekretaris Yayasan Islamic Centre Zayadi mengucapkan selamat kepada STIT SB yang telah mampu bersaing di tingkat nasional. Kepada para dosen, ia mengharapkan meningkatkan mutu pendidikan dan penelitian dengan mengikuti program-program pendidikan dan penelitian di tingkat nasional, terus memperkuat kemampuan berbahasa asing, khususnya Inggris dan Arab.
"Dengan demikian, tahun depan lebih banyak dosen-dosen kita yang dikirim keluar negeri dengan biaya Kementerian Agama RI," pintanya. (525)
-----------------------------------------------------------
Buat Ide Bermanfaat
Mahasiswa Harus Mampu Menulis di Media Massa
Pariaman--Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman diminta sejak dini membekali dirinya dengan kemampuan menulis. Hal itu dinilai penting, karena dengan kemampuan menulis berbagai ide dan gagasan bisa diketahui publik.
Demikian diungkapkan wartawan/penulis buku, Armaidi Tanjung dihadapan kader PMII Kota Pariaman, Jumat (14/11) pada acara follow up Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) di sekretariat PMII Kota Pariaman, di Desa Toboh Palabah. Acara dipandu Ketua Komisariat PMII STIT Syekh Burhanuddin Rozi Yardinal, dihadiri Sekretaris Umum PKC PMII Sumbar Idris dan Ketua Komisariat PMII STIE Sumbar Iqbal.
Menurut Armaidi Tanjung, mahasiswa yang memilki kemampuan menulis di media massa akan memberikan banyak manfaat. Dengan menulis pikiran dan ide-ide segar dari seorang mahasiswa di media massa seperti koran, majalah, tabloid, maka mahasiswa tersebut bisa menyumbangkan ide dan gagasan ke khalayak. Walaupun tidak pernah bertemu, bertatap muka, tapi mahasiswa tersebut bisa diketahui orang lain pikirannya.
"Karena itu, dalam menumbuhkan kemampuan menulis mahasiswa ini harus dengan konsep 3 M. Yakni, mulai dari diri sendiri, mulai sekarang, mulai dari hal-hal yang kecil dan berhubungan langsung dengan diri sendiri atau pengalaman. Insya Allah dengan konsep 3 M tersebut, kader PMII bisa melahirkan tulisan," kata Armaidi Tanjung yang juga Bendahara PW Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat ini.
Dikatakan Armaidi, melalui tulisan seseorang dapat mendorong orang, masyarakat atau kelompok tertentu untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan mengemukakan alasan dan alternatif yang perlu dilakukan sehingga mendorong masyarakat berubah ke hal-hal yang positif dan mendatangkan manfaat kepada masyarakat itu sendiri.
"Sebaik apa pun ide yang dimiliki seseorang, selama hanya terpendam dalam pikirannya maka ide tersebut tidak akan memberikan manfaat apa-apa pada dirinya dan orang lain. Namun jika ide atau gagasan yang dimiliki seseorang disampaikan kepada orang lain melalui tulisan yang baik, maka tulisan tersebut bisa memberikan manfaat. Beruntung mahasiswa sekarang banyak dibantu oleh teknologi informasi yang memudahkannya dalam proses menuliskan ide," kata Armaidi.
Ketua Komisariat PMII STIT Syekh Burhanuddin Rozi Yardinal menyebutkan, tema jurnalistik dan menulis ini dinilai penting bagi kader PMII. Sehingga kita sengaja mendatangkan pemateri yang sudah puluhan tahun berkarir dalam dunia jurnalistik dan menulis.
"Dari materi yang disampaikan, terlihat kader PMII semakin termotivasi untuk memulai menulis di media massa. Dari potensi yang ada, cukup banyak kader PMII Pariaman yang diharapkan bisa menghasilkan karyanya dimuat di koran," tambah Rozi. (525)
-----------------------------------------------------
Enam Lingkung Gelorakan Budaya Goro di Nagari
Enam Lingkung--Pemerintahan Kecamatan Enam Lingkung terus membudayakan gotong royong. Dilakukan sebulan sekali, yang tempatnya dipergilirkan di seluruh nagari yang ada di kecamatan itu. Sabtu lalu, gotong royong demikian diadakan di Korong Balah Aie, Nagari Gadua. Diikuti banyak orang dan tokoh masyarakat, laki-laki dan perempuan.
Camat Enam Lingkung, Irsyaf Bujang kepada Singgalang menyebutkan, gotong royong kali ini membersihkan jalan di korong Balah Aie. Ada sekitar sekilo panjangnya jalan yang selesai dibersihkan secara bersama, antara pemerintah kecamatan dan masyarakat nagari itu sendiri.
"Jalan yang belum diaspal itu dapat menghubungkan ke berbagai nagari dan kecamatan lainnya. Bisa tembus di Nagari Pakandangan. Bisa juga untuk menuju Nagari Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, dan ke Kecamatan Nan Sabaris. Dan memang, kondisinya karena masih jalan tanah telah merimba pula," kata dia.
Menurut dia, budaya gontong royong itu dilakukan, seiring dengan program Pemkab Padang Pariaman. Usai goro, semua yang ikut makan bersama dengan nasi bungkus apa adanya yang dibawakan oleh masyarakat kaum ibuk yang ada di nagari tempat acara dilakukan. Dan itu disepakti, sejak program ini dimulai dulu.
Katanya lagi, setiap sehabis goro, juga dilakukan rapat bersama, membahas segala problema yang terjadi di tengah masyarakat nagari. Termasuk juga musyawarah dengan pelaksana PNPM, yang sedang berjalan programnya di kecamatan ini.
"Jadi, banyak hal yang bisa dikebangkan dari budaya goro tersebut. Mulai dari timbulnya rasa kebersamaan, rasa memiliki dan tanggungjawab bersama untuk membangun korong dan nagari. Itulah budaya orang saisuak, yang harus kita lanjutkan saat ini ditengah kencangnya arus globalisasi dan informasi," ungkapnya. (525)
---------------------------------------------------------
Setelah Lubuak Nyarai Go Nasional
Nagari Lubuk Alung Menghasilkan Banyak Jenis Batu Permata
Lubuk Alung--Terbukanya kawasan wisata alam Lubuak Nyarai di Nagari Lubuk Alung, membuat nagari itu semakin terkenal. Lubuak Nyarai atau juga lazim disebut Air Terjun Nyarai terletak di hutan Gamaran, Korong Salibutan. Semakin banyak saja orang berkunjung, menikmati jernihnya air, dan indahnya alam itu saat musim libur. Setelah lokasi itu go nasional, ternyata banyak pula benda lain yang sangat berharga ditemukan di lokasi itu, selain indahnya alam ciptaan Tuhan tersebut.
Ada banyak jenis batu permata yang ditemukan di Lubuak Nyarai demikian. Selama ini, baju akiak banyak ditemukan di daerah luar. Seperti Lumuik Sungai Dareh yang terdapat di Dharmasraya, Lumuik Suliki yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota, dan sejumlah batu lainnya yang ada di Solok Selatan dan Pesisir Selatan. Padang Pariaman rasanya belum punya jenis batu, yang kini sedang trend-trend sebagai perhiasan tangan oleh banyak orang, laki-laki dan perempuan.
"Alhamdulillah, satu lagi kekayaan alam bersua di nagari ini. Ada batu jenis Lumuik, Limau Manih, Kecubung, Panca, Merah Dagiang, Virus. Semua itu ditemukan di hutan Nyarai, yang legalitasnya akan di-paten-kan. Menurut penemunya, sumber batu-batu itu sangat banyak, dan besar sekali potensinya. Tinggal lagi pengembangannya," kata Walinagari Lubuk Alung, Harry Subrata.
Sekarang, hampir semua pecinta batu telah memakai hasil yang dikeluarkan Lubuak Nyarai itu. Dan popularitasnya mulai dikembangkan lewat dunia maya. Seiring dengan itu, para tukang asah batu pun mulai bermunculan di sekitar kawasan Lubuk Alung. Batu yang banyak itu ditemukan secara alamiah, dan telah diakui keabsahan oleh para ahli batu.
Walinagari Lubuk Alung Harry Subrata termasuk anak muda yang sudah lama gemar dan hobi memakai cincin batu. Dia memang paling senang pakai cincin batu. "Kalau dilihat batu Lubuk Alung ini, tidak kalah oleh batu dari daerah lainnya. Cuman, populernya batu Lubuk Alung agak sedikit terlambat, bila dibandingkan dengan Lumuik Suliki, kampungnya Tan Malaka, dan Lumuiknya Sungai Dareh yang ikut dipopulerkan Presiden SBY," ujarnya.
Hasil pengamatan, hampir semua bukik-bukik yang ada di Lubuk Alung punya potensi batu rancak. Begitu juga di Koto Buruak, tepatnya di bawah jembatan yang baru di bangun, dan di Bukik Lubuk Alung juga tidak kalah hebat dan rancaknya batu permata yang dihasilkan. Ternyata, secara umum perekonomian pengrajin batu lebih top pula saat ini, bila dibandingkan dengan perajin emas.
"Banyak orang Lubuk Alung yang selama ini perajin emas di kampung orang, mulai beralih ke perajin batu. Dan itu ternyata menambah kemasukan bagi kehidupannya, dibanding sebelumnya saat mengembangkan usaha emas. Tentu hal itu akibat semakin tinggi dan banyaknya peminat batu tersebut," ungkapnya.
Hadirnya beragam jenis batu permata di Lubuk Alung, agaknya mulai menghilangkan popularitas nagari itu yang selama ini terkenal sebagai penghasil galian C terbesar. Prosfek nagari itu untuk berkembang dan maju pesat, semakin terlihat. Termasuk kehadiran batu permata, yang mulai dilirik oleh orang luar.
Walinagari Harry Subrata bersama masyarakatnya, ingin mengembangkan batu itu kearah yang lebih baik. Punya legalitas resmi, dan sah sebagai milik kekayaan alam nagarinya. "Sekarang, Padang Pariaman sudah punya produk tambahan; batu permata yang dihasilkan oleh bumi Lubuk Alung," sebutnya. (damanhuri)
--------------------------------------------------------------------
Kapalo Banda Tanah Taban yang Runtuh Kembali Diperbaiki
Lubuk Alung--Akibat curah hujan yang cukup tinggi belakangan ini, membuat Kapalo Banda Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung jebol dan runtuh. Akibatnya, kapalo banda yang selama ini aktif mengairi sawah masyarakat korong itu, dan sebagian sawah di Korong Rimbo Kalam, Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayutanam jadi terhenti.
Jumat lalu, Walinagari Pasie Laweh Lubuk Alung, Adnan meringankan beban masyarakat petani disitu. Sebanyak Rp5 juta uang tunai diberikannya ke Ketua Petani, Pemakai dan Pengelola Air (P3A) Tanah Taban, Mekyasin. "Memang, uang sebanyak itu tidak akan cukup untuk menormalkan kembali kapalo banda demikian. Namun, pemerintahan nagari ikut peduli dalam soal itu," ungkap Adnan.
Bagi Adnan, kerjasama semua masyarakat Tanah Taban dan Rimbo Kalam, Anduriang sangat menentukan sekali akan kebaikan kapalo banda yang selama ini jadi andalan sumber pertanian. "Kapalo Banda Tanah Taban yang airnya bersumber dari Sungai Batang Anai, adalah irigasi sejarah panjang. Mampu membangun perekonomian masyarakat nagari di dua kecamatan berbeda. Untuk itu, keberadaannya harus dirawat, dan dijaga dengan baik," kata dia.
"Sekitar 100 hektare sawah masyarakat petani di dua nagari yang berbeda kecamatannya itu, sangat bergatung pada kemasukan air kapalo banda tersebut. Bayangkan, kalau lama rusaknya kapalo banda itu, akan menjadi kemunduran sumber kehidupan masyarakat, yang selama ini memang sangat bergantung pada sektor pertanian sawah," ungkapnya lagi.
Talut di Kampuang Pondok dan Ujuang Guguak
Kata Walinagari Adnan, sesuai kebutuhan masyarakat nagarinya, saat ini sedang dibangun talut di Korong Kampuang Pondok dan Korong Ujuang Guguak oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan. Talut itu fungsinya hampir sama dengan kapalo banda, yang akan mengalirkan air ke sawah masyarakat.
Menurut dia, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung memang pusat atau sumber air yang mengalir di Anai I, dan Anai II yang akan beroperasi. Namun, di nagari itu ada juga sawah masyarakat yang selama ini bergantung pada sumber hujan. Itulah yang terjadi di masyarakat Kampuang Pondok dan Ujuang Guguak.
"Alhamdulillah, saat ini PNPM sedang mengerjakan talut demikian. Diharapkan, pengerjaan itu tidak memakan waktu lama. Sebab, kalau air telah mengalir nantinya, sumber kemasukan bagi petani akan meningkat pula. Ada sekitar 15 hektare sawah di Ujuang Guguak yang akan dialiri oleh talut itu, dan sekitar 21 hektare di Kampuang Pondok," kata Adnan. (525)
Senin, 02 Juli 2018
Rehab Total Masjid Muhajirin Koto Buruak Tinggal Finising
Lubuk Alung--Secara konstruksi bangunan, tampak Masjid Muhajirin Koto Buruak telah mantap. Tinggal lagi finising, sehingga membutuhkan waktu yang lama, dan uang yang tidak sedikit pula. Lama terhenti, sehabis lebaran ini masjid itu kembali dipakai untuk Shalat Jumat.
Ketua Pengurus Pembangunan Masjid Muhajirin, Dr. Irwandi Sulin Datuak Gadang menjelaskan, kalau masjid itu bermula dari surau tuo nagari, dibangun tahun 1890 M, dan hingga saat ini telah mengalami ragam renovasi.
"Pascagempa Padang Panjang (1926) itu renovasi perdana," kata dia. Kemudian juga direhab tahun 1972, era 1980 serta pascagempa 2009. Dengan keadaan yang sangat genting karena ketidak-layakan, maka tahun ini masjid itu juga mengalami renovasi. Malah rehab total.
Menurut Irwandi Sulin, rehab total masjid dengan ukuran 16x18 meter ini jauh lebih besar dari bangunan lama. Tentu hal demikian tak pelak lagi karena semakin banyaknya pertambahan penduduk.
Dalam sejarah Nagari Lubuk Alung, kata dia, yang namanya surau gadang itu ada empat. Yakni Surau Gadang Singguliang, Surau Gadang Sungai Abang, Surau Gadang Koto Buruak, dan Surau Gadang Balah Hilia.
"Pada 1972 sepakatlah masyarakat untuk menjadikan Surau Gadang Koto Buruak jadi masjid, dan diberi nama Masjid Muhajirin," ulas Irwandi Sulin, mantan Rektor Unitas Padang ini. Rehab total sekarang, lanjutnya, itu mencapai Rp1,4 miliar anggarannya. Hingga saat ini telah terpakai dana senilai Rp750 juta.
Sekaitan rehab total, sebut Irwandi Sulin, ada sekitar dua setengah bulan lamanya aktivitas masjid dihentikan. "Alhamdulillah, sekarang meskipun belum tuntas, masjid ini sudah bisa dipakai kembali. Kita sangat mengharapkan partisipasi masyarakat, agar pembangunan ini bisa cepat selesainya," katanya.
Masjid merupakan lambang sekaligus kekuatan nagari. Di dalamnya banyak dipecahkan berbagai persoalan agama dan adat serta sosial kemasyarakatan. Maka dari itu, bangunan sebuah masjid harus kuat dan rancak, dan semua anak nagari yang menggunakannya merasa senang pula.
Salurkan pokir
Anggota Komisi V DPRD Sumatera Barat, H. Darmon, puasa kemarin menyalurkan pokok pikiran (pokir) melalui APBD Sumbar ke Masjid Muhajirin sebanyak Rp20 juta. "Meskipun jumlahnya tak banyak, paling tidak anggaran sebanyak itu bisa meringankan beban pengurus dalam menjalankan kelanjutan rehab total masjid ini," kata anggota dewan dari PAN ini.
Sebagai anggota dewan Sumatera Barat yang mewakili daerah Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, Darmon merasa punya tanggungjawab moral dalam soal kelanjutan pembangunan masjid di daerah pemilihannya.
"Selama Ramadhan kemarin ada empat masjid yang dapat alokasi pokor demikian," katanya. Yakni, Masjid Muhajirin Koto Buruak, Lubuk Alung, Masjid Syuhada Pasa Usang, Sungai Buluah, Masjid Raya Sungai Ibua, Sungai Sariak, dan Masjid Raya Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai. (501)
Ketua Pengurus Pembangunan Masjid Muhajirin, Dr. Irwandi Sulin Datuak Gadang menjelaskan, kalau masjid itu bermula dari surau tuo nagari, dibangun tahun 1890 M, dan hingga saat ini telah mengalami ragam renovasi.
"Pascagempa Padang Panjang (1926) itu renovasi perdana," kata dia. Kemudian juga direhab tahun 1972, era 1980 serta pascagempa 2009. Dengan keadaan yang sangat genting karena ketidak-layakan, maka tahun ini masjid itu juga mengalami renovasi. Malah rehab total.
Menurut Irwandi Sulin, rehab total masjid dengan ukuran 16x18 meter ini jauh lebih besar dari bangunan lama. Tentu hal demikian tak pelak lagi karena semakin banyaknya pertambahan penduduk.
Dalam sejarah Nagari Lubuk Alung, kata dia, yang namanya surau gadang itu ada empat. Yakni Surau Gadang Singguliang, Surau Gadang Sungai Abang, Surau Gadang Koto Buruak, dan Surau Gadang Balah Hilia.
"Pada 1972 sepakatlah masyarakat untuk menjadikan Surau Gadang Koto Buruak jadi masjid, dan diberi nama Masjid Muhajirin," ulas Irwandi Sulin, mantan Rektor Unitas Padang ini. Rehab total sekarang, lanjutnya, itu mencapai Rp1,4 miliar anggarannya. Hingga saat ini telah terpakai dana senilai Rp750 juta.
Sekaitan rehab total, sebut Irwandi Sulin, ada sekitar dua setengah bulan lamanya aktivitas masjid dihentikan. "Alhamdulillah, sekarang meskipun belum tuntas, masjid ini sudah bisa dipakai kembali. Kita sangat mengharapkan partisipasi masyarakat, agar pembangunan ini bisa cepat selesainya," katanya.
Masjid merupakan lambang sekaligus kekuatan nagari. Di dalamnya banyak dipecahkan berbagai persoalan agama dan adat serta sosial kemasyarakatan. Maka dari itu, bangunan sebuah masjid harus kuat dan rancak, dan semua anak nagari yang menggunakannya merasa senang pula.
Salurkan pokir
Anggota Komisi V DPRD Sumatera Barat, H. Darmon, puasa kemarin menyalurkan pokok pikiran (pokir) melalui APBD Sumbar ke Masjid Muhajirin sebanyak Rp20 juta. "Meskipun jumlahnya tak banyak, paling tidak anggaran sebanyak itu bisa meringankan beban pengurus dalam menjalankan kelanjutan rehab total masjid ini," kata anggota dewan dari PAN ini.
Sebagai anggota dewan Sumatera Barat yang mewakili daerah Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, Darmon merasa punya tanggungjawab moral dalam soal kelanjutan pembangunan masjid di daerah pemilihannya.
"Selama Ramadhan kemarin ada empat masjid yang dapat alokasi pokor demikian," katanya. Yakni, Masjid Muhajirin Koto Buruak, Lubuk Alung, Masjid Syuhada Pasa Usang, Sungai Buluah, Masjid Raya Sungai Ibua, Sungai Sariak, dan Masjid Raya Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai. (501)
Minggu, 01 Juli 2018
Bangunan Drainase dan Talud di Koto Buruak Hilia Tuntas
Lubuk Alung--Pembangunan drainase dan talud di Koto Buruak Hilia, Nagari Lubuk Alung yang dikerjakan lewat anggaran tahun ini telah selesai. Bangunan fisik senilai Rp114 juta lebih ini memiliki dua fungsi sekaligus.
Ketua Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Nagari Lubuk Alung, Andri Septian menjelaskan, disebut dua fungsi, di samping berguna untuk menahan badan jalan agar tidak runtuh dan jebol, juga sekalian untuk irigasi yang menampung dan menyalurkan air ke lahan sawah masyarakat yang ada di sekitar jalan tersebut.
Menurut dia, dengan adanya drainase dan talud ini jalan Singguliang - Koto Buruak pun terlihat pakai bentuk. "Masyarakat yang memiliki sawah di tepi jalan itu merasa senang, karena dengan mudahnya dapat tambahan air masuk pada saat musim hujan tiba," kata Andri Septian yang juga Kaur Pembangunan Nagari Lubuk Alung tersebut.
Dia melihat, pembangunan drainase ini merupakan masukan dan keinginan dari mayoritas masyarakat Koto Buruak Hilia yang melihat begitu cepat aspal jalan punah akibat terus menerus digerus air yang datang.
"Musim hujan, tidak saja dari langit air datangnya. Tetapi dari nagari tetangga, Singguliang juga dengan kencangnya mengalir, lantaran kampung itu berada di bagian terendah, sehingga memudahkan air sampainya," ujar Andri.
Katanya lagi, bangunan fisik yang juga telah tuntas pengerjaannya, adalah kelanjutan pembangunan Aula Kantor Walinagari. "Tahun ini ada Rp65 juta alokasi anggaran untuk kelanjutan pembangunan gedung yang nantinya untuk berbagai pertemuan dan rapat. Mungkin ada sekian kali anggaran lagi, baru gedung itu tuntas dan bisa digunakan sebagaimana mestinya," ujarnya.
"Sesuai petunjuknya, pembangunan itu juga melibatkan masyarakat," sebutnya. Sebab, sambungnya, keterbatasan anggaran nagari sangat membutuhkan pengerjaan demikian menggunakan swadaya masyarakat nagari itu sendiri. (501)
Ketua Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Nagari Lubuk Alung, Andri Septian menjelaskan, disebut dua fungsi, di samping berguna untuk menahan badan jalan agar tidak runtuh dan jebol, juga sekalian untuk irigasi yang menampung dan menyalurkan air ke lahan sawah masyarakat yang ada di sekitar jalan tersebut.
Menurut dia, dengan adanya drainase dan talud ini jalan Singguliang - Koto Buruak pun terlihat pakai bentuk. "Masyarakat yang memiliki sawah di tepi jalan itu merasa senang, karena dengan mudahnya dapat tambahan air masuk pada saat musim hujan tiba," kata Andri Septian yang juga Kaur Pembangunan Nagari Lubuk Alung tersebut.
Dia melihat, pembangunan drainase ini merupakan masukan dan keinginan dari mayoritas masyarakat Koto Buruak Hilia yang melihat begitu cepat aspal jalan punah akibat terus menerus digerus air yang datang.
"Musim hujan, tidak saja dari langit air datangnya. Tetapi dari nagari tetangga, Singguliang juga dengan kencangnya mengalir, lantaran kampung itu berada di bagian terendah, sehingga memudahkan air sampainya," ujar Andri.
Katanya lagi, bangunan fisik yang juga telah tuntas pengerjaannya, adalah kelanjutan pembangunan Aula Kantor Walinagari. "Tahun ini ada Rp65 juta alokasi anggaran untuk kelanjutan pembangunan gedung yang nantinya untuk berbagai pertemuan dan rapat. Mungkin ada sekian kali anggaran lagi, baru gedung itu tuntas dan bisa digunakan sebagaimana mestinya," ujarnya.
"Sesuai petunjuknya, pembangunan itu juga melibatkan masyarakat," sebutnya. Sebab, sambungnya, keterbatasan anggaran nagari sangat membutuhkan pengerjaan demikian menggunakan swadaya masyarakat nagari itu sendiri. (501)
Pejabat Kemenag Harus Memahami dan Menguasai Tugas Pokok
Padang Pariaman--Visi misi Kementerian Agama (Kemenag) adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang taat beragama, rukun, cerdas dan sejahtera lahir batin. Setiap pejabat di Kemenag harus melaksanakan dan menyukseskan visi misi tersebut.
Hal itu ditegaskan Kepala Kemenag Kabupaten Padang Pariaman, Dr. H. Helmi, Jumat (29/6) lalu pada kegiatan pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan fungsional penghulu di lingkungan Kemenag daerah itu, di Aula FKUB Padang Pariaman, Kiambang, Nagari Lubuk Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung.
"Setiap pejabat Kemenag harus memberi makna dan bobot pada instansinya sendiri. Bapak-bapak harus mampu menguasai ekosistim tugas dan fungsi Kemenag sesuai dengan bidang tugas masing-masing," katanya.
Pada kesempatan tersebut, Helmi mengucapkan selamat kepada pejabat yang baru dilantik dan ia juga meminta agar bekerja dengan baik, menguasai bidang tugas masing-masing serta memahami dan menguasai tugas pokok dan fungsi jabatan yang diemban.
"Setiap pejabat Kemenag harus bisa memahami dan mendalami serta menghadirkan solusi atas setiap masalah yang timbul," tutupnya.
Terpisah, Kepala Sub Bagian (Subbag) TU, H. Syafrizal mengatakan, jumlah penghulu yang dilantik dan diambil sumpahnya sebanyak 14 orang. Ke-14 orang tersebut tersebar di 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Padang Pariaman.
"Delapan orang dilantik berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor B.II/3/05411 dan enam orang lagi dilantik berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kanwil Kemenag Sumbar nomor 120/KW.03.1-b/KP.07.6/01/2018," terangnya.
Menurut Syafrizal, selama yang bersangkutan masih memangku jabatan penghulu, mereka berhak menerima tunjangan jabatan berdasarkan Perpres nomor 73 tahun 2007.
"Diharapkan pada pejabat yang dilantik agar dapat menerapkan lima nilai budaya kerja Kemenag, yaitu integritas, profesionalitas, inovasi, tanggungjawab dan keteladanan. Kita harus termotivasi untuk melahirkan kreasi inovasi baru di bidang kerja masing-masing," katanya.
Delapan pejabat yang dilantik berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor B.II/3/05411 adalah, Elyusra Amir, Zul Azmi, Syafri Yendi, Aslan Sari, Zamzami, Kasmir dan Bahar serta Yulizar.
Sedangkan enam orang pejabat yang dilantik berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kanwil Kemenag Sumbar nomor 120/KW.03.1-b/KP.07.6/01/2018 adalah Almanar, Heri Yudiansyah, Muhammad Amin, Adri Ahmad dan Alfitra Kusastri serta Syafral Abdi. (501)
Hal itu ditegaskan Kepala Kemenag Kabupaten Padang Pariaman, Dr. H. Helmi, Jumat (29/6) lalu pada kegiatan pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan fungsional penghulu di lingkungan Kemenag daerah itu, di Aula FKUB Padang Pariaman, Kiambang, Nagari Lubuk Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung.
"Setiap pejabat Kemenag harus memberi makna dan bobot pada instansinya sendiri. Bapak-bapak harus mampu menguasai ekosistim tugas dan fungsi Kemenag sesuai dengan bidang tugas masing-masing," katanya.
Pada kesempatan tersebut, Helmi mengucapkan selamat kepada pejabat yang baru dilantik dan ia juga meminta agar bekerja dengan baik, menguasai bidang tugas masing-masing serta memahami dan menguasai tugas pokok dan fungsi jabatan yang diemban.
"Setiap pejabat Kemenag harus bisa memahami dan mendalami serta menghadirkan solusi atas setiap masalah yang timbul," tutupnya.
Terpisah, Kepala Sub Bagian (Subbag) TU, H. Syafrizal mengatakan, jumlah penghulu yang dilantik dan diambil sumpahnya sebanyak 14 orang. Ke-14 orang tersebut tersebar di 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Padang Pariaman.
"Delapan orang dilantik berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor B.II/3/05411 dan enam orang lagi dilantik berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kanwil Kemenag Sumbar nomor 120/KW.03.1-b/KP.07.6/01/2018," terangnya.
Menurut Syafrizal, selama yang bersangkutan masih memangku jabatan penghulu, mereka berhak menerima tunjangan jabatan berdasarkan Perpres nomor 73 tahun 2007.
"Diharapkan pada pejabat yang dilantik agar dapat menerapkan lima nilai budaya kerja Kemenag, yaitu integritas, profesionalitas, inovasi, tanggungjawab dan keteladanan. Kita harus termotivasi untuk melahirkan kreasi inovasi baru di bidang kerja masing-masing," katanya.
Delapan pejabat yang dilantik berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor B.II/3/05411 adalah, Elyusra Amir, Zul Azmi, Syafri Yendi, Aslan Sari, Zamzami, Kasmir dan Bahar serta Yulizar.
Sedangkan enam orang pejabat yang dilantik berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kanwil Kemenag Sumbar nomor 120/KW.03.1-b/KP.07.6/01/2018 adalah Almanar, Heri Yudiansyah, Muhammad Amin, Adri Ahmad dan Alfitra Kusastri serta Syafral Abdi. (501)
Tahapan Pembangunan Surau Pondok Ketek Terus Berjalan
Ulakan--Pembangunan kembali Surau Pondok Ketek terus memperlihatkan hasil yang maksimal. Bangunan tempat penyimpanan benda berharga peninggalan Syekh Burhanuddin yang berukuran 29x19 meter, dibangun dua lantai sampai siap itu nanti akan menelan biaya Rp1,5 miliar. Sejak awal pembangunan kembali surau itu hingga kini telah tegak dengan kokohnya.
Heri Firmansyah Tuanku Khalifah menyebutkan, dari acara lelang singgang ayam beberapa waktu lalu terkumpul uang Rp52 juta dari seluruh masyarakat yang hadir. Acara sudah bisa dilakukan dalam surau ini, meskipun lantai, dindingnya belum siap. Kemudian untuk granit lantai dasar sebanyak 418 kotak sudah dijamin oleh H. Zulkarnain Datuak Rajo Indo, warga masyarakat Sungai Asam, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung yang sukses mengelola PT. Restoran Padang Kuning di Kalimatan Timur.
"Setiap habis puasa kita selalu melakukan acara lelang singgang ayam, yang dikemas dengan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), yang menampilkan sejumlah orang qori dan qoriah," ujar Tuanku Khalifah.
Menurut dia, pemasangan granit untuk lantai dasar ini akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. "Jadi, secara berangsur-angsur, pembangunan surau ini akan selesai. Insya Allah. Dan lagi, memang yang namanya pembangunan ini tak bisa sekali jalan," ungkapnya.
Di samping bulan Syafar yang mashur dengan Syafa Gadang dan Syafa Ketek, pada bulan Rajab dan Sa'ban dan Syawal juga menjadi puncak ramainya jamaah yang datang ke Surau Pondok Ketek ini. "Demikian itu merupakan tradisi sejak dulunya oleh jamaah yang bertalian dengan Syekh Burhanuddin dari berbagai daerah di Sumatera Barat ini. Nah, setiap kali jamaah yang datang selalu memberikan sumbangan, sebagai kelanjutan pembangunan ini," katanya.
"Ada yang memilih duluan ke Ulakan, lalu melanjutkan ke Surau Pondok yang terletak di Korong Koto Panjang, Nagari Sandi Ulakan ini," ujar dia. Dan ada juga yang ke Surau Pondok dulu, baru ke Ulakan. "Di sini, masyarakat melakukan tradisi wirid pengajian, tahlil dan terakhir melihat dari dekat pakaian kebesaran Syekh Burhanuddin. Jadi, kondisi surau ini sudah sepatutnya diperbesar, agar mampu menampung banyak jamaah. Kasihan kita, kalau musim ramainya itu, ada jamaah yang tidur diatas mobilnya atau menumpang di emperan kedai di sekitaran surau ini," katanya.
Heri Firmansyah tercatat sebagai khalifah yang ke-15 Syekh Burhanuddin. Warih bajawek, pusako batarimo, dia merupakan kelanjutan dari khalifah sebelumnya, H. Bermawi yang telah berpulang ke rahmatullah. Surau Pondok Ketek tercatat sebagai benda cagar budaya, karena keberadaannya telah lama, dan punya nilai sejarah tersendiri.
"Awal mulanya, Surau Pondok ini adalah sebuah rumah milik kaum kami Suku Guci. Ke rumah inilah mulanya Syekh Burhanuddin menepat, tatkala pulang dari Aceh," ujar Heri Firmansyah.
"Mamak ditinggalkan, mamak pula ditepati. Garis keturunan itu jelas dan terus bersampung, dari Koto Panjang, Sintuak, dan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, sebagai kampung asalnya Syekh Burhanuddin," ungkapnya.
Dia belum bisa memastikan, kapan selesainya bangunan yang tengah dipugar ini. Yang jelas, setiap kali cukup anggaran untuk bekerja, para tukang dipanggilnya untuk melanjutkan pekerjaan yang tengah terbengkalai ini. Untuk itu, dia mohon bantuan banyak pihak, baik dari jamaah maupun dari pemerintah.
Bagi Heri Firmansyah, kelanjutan pembangunan Surau Pondok sangat penting artinya. Masyarakat dan jamaah yang ingin memberikan sumbangan, silahkan kirim lewat BRI unit Nan Sabaris dengan nomor rekening 5492-01-013733-53-5 atas nama Surau Pondok Ketek. "Semoga niat baik ini akan dapat kemudahan dari Yang Maha Kuasa," harapnya.
Menurut dia, seluruh peninggalan Syekh Burhanuddin telah ada kataloknya. Artinya, para pengunjung tak lagi susah untuk membolak-baliknya. Cukup melihat daftarnya, mana yang akan dilihat sudah bisa tersambung cepat. Bahkan, sebagian kitab dan peninggalan lainnya sudah di-visualisasi-kan lewat cd. (501)
Heri Firmansyah Tuanku Khalifah menyebutkan, dari acara lelang singgang ayam beberapa waktu lalu terkumpul uang Rp52 juta dari seluruh masyarakat yang hadir. Acara sudah bisa dilakukan dalam surau ini, meskipun lantai, dindingnya belum siap. Kemudian untuk granit lantai dasar sebanyak 418 kotak sudah dijamin oleh H. Zulkarnain Datuak Rajo Indo, warga masyarakat Sungai Asam, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung yang sukses mengelola PT. Restoran Padang Kuning di Kalimatan Timur.
"Setiap habis puasa kita selalu melakukan acara lelang singgang ayam, yang dikemas dengan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), yang menampilkan sejumlah orang qori dan qoriah," ujar Tuanku Khalifah.
Menurut dia, pemasangan granit untuk lantai dasar ini akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. "Jadi, secara berangsur-angsur, pembangunan surau ini akan selesai. Insya Allah. Dan lagi, memang yang namanya pembangunan ini tak bisa sekali jalan," ungkapnya.
Di samping bulan Syafar yang mashur dengan Syafa Gadang dan Syafa Ketek, pada bulan Rajab dan Sa'ban dan Syawal juga menjadi puncak ramainya jamaah yang datang ke Surau Pondok Ketek ini. "Demikian itu merupakan tradisi sejak dulunya oleh jamaah yang bertalian dengan Syekh Burhanuddin dari berbagai daerah di Sumatera Barat ini. Nah, setiap kali jamaah yang datang selalu memberikan sumbangan, sebagai kelanjutan pembangunan ini," katanya.
"Ada yang memilih duluan ke Ulakan, lalu melanjutkan ke Surau Pondok yang terletak di Korong Koto Panjang, Nagari Sandi Ulakan ini," ujar dia. Dan ada juga yang ke Surau Pondok dulu, baru ke Ulakan. "Di sini, masyarakat melakukan tradisi wirid pengajian, tahlil dan terakhir melihat dari dekat pakaian kebesaran Syekh Burhanuddin. Jadi, kondisi surau ini sudah sepatutnya diperbesar, agar mampu menampung banyak jamaah. Kasihan kita, kalau musim ramainya itu, ada jamaah yang tidur diatas mobilnya atau menumpang di emperan kedai di sekitaran surau ini," katanya.
Heri Firmansyah tercatat sebagai khalifah yang ke-15 Syekh Burhanuddin. Warih bajawek, pusako batarimo, dia merupakan kelanjutan dari khalifah sebelumnya, H. Bermawi yang telah berpulang ke rahmatullah. Surau Pondok Ketek tercatat sebagai benda cagar budaya, karena keberadaannya telah lama, dan punya nilai sejarah tersendiri.
"Awal mulanya, Surau Pondok ini adalah sebuah rumah milik kaum kami Suku Guci. Ke rumah inilah mulanya Syekh Burhanuddin menepat, tatkala pulang dari Aceh," ujar Heri Firmansyah.
"Mamak ditinggalkan, mamak pula ditepati. Garis keturunan itu jelas dan terus bersampung, dari Koto Panjang, Sintuak, dan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, sebagai kampung asalnya Syekh Burhanuddin," ungkapnya.
Dia belum bisa memastikan, kapan selesainya bangunan yang tengah dipugar ini. Yang jelas, setiap kali cukup anggaran untuk bekerja, para tukang dipanggilnya untuk melanjutkan pekerjaan yang tengah terbengkalai ini. Untuk itu, dia mohon bantuan banyak pihak, baik dari jamaah maupun dari pemerintah.
Bagi Heri Firmansyah, kelanjutan pembangunan Surau Pondok sangat penting artinya. Masyarakat dan jamaah yang ingin memberikan sumbangan, silahkan kirim lewat BRI unit Nan Sabaris dengan nomor rekening 5492-01-013733-53-5 atas nama Surau Pondok Ketek. "Semoga niat baik ini akan dapat kemudahan dari Yang Maha Kuasa," harapnya.
Menurut dia, seluruh peninggalan Syekh Burhanuddin telah ada kataloknya. Artinya, para pengunjung tak lagi susah untuk membolak-baliknya. Cukup melihat daftarnya, mana yang akan dilihat sudah bisa tersambung cepat. Bahkan, sebagian kitab dan peninggalan lainnya sudah di-visualisasi-kan lewat cd. (501)
Mantapkan Nilai Adat dan Budaya Katapiang Gelar Alek Nagari
Katapiang--Perkembangan zaman tak dipungkiri lagi ikut menggerus nilai-nilai adat istiadat serta seni budaya Minangkabau itu sendiri. Begitu juga pemahaman akan nilai-nilai demikian juga semakin berkurang di tengah masyarakat. Harus ada upaya semua pihak, agar kekuatan adat dan budaya bisa kembali menjadi pegangan hidup oleh masyarakat.
Pemegang ulayat Katapiang, B. Rangkayo Rajo Sampono menyampaikan hal itu, Minggu (1/7) di tengah persiapan alek nagari yang dilakukannya bersama masyarakat Katapiang selama 15 hari ke depan. "Tujuan alek nagari ini, bagaimana nilai-nilai adat dan budaya tersebut kembali menjadi rujukan oleh masyarakat," ungkapnya.
Alek nagari, kata dia, adalah mengkomersilkan nilai budaya itu sendiri. "Minggu malam sebagai pembukaan, namanya "patang manyampai". Artinya, seluruh niniak mamak dalam ulayat Nan Sabaris lama, sejak dari Pauh Kamba, Ulakan, Sunua, Tapakis, Katapiang, Padang Bintungan, Kapalo Koto, semuanya duduk di sini, membicarakan langkah-langkah yang akan ditempuh selama 15 hari alek nagari," ujar dia.
"Jadi, berapa banyaknya huluambek akan naik main, berapa pasang pula tukang silek nantinya, akan diputuskan secara bersama," sebutnya.
Memang, katanya, agenda yang sudah disusun panitia, antara lain huluambek, silek, indang, dan diselingi dengan penampilan orgen tunggal, sebagai hiburan zaman now.
Rajo Sampono menyebutkan, alek nagari yang berlangsung di laga-laga Nagari Katapiang ini merupakan keinginan anak nagari secara bersama. Termasuk juga dukungan dari perantau. Sekaligus, alek nagari ini tentunya akan memperkuat tim huluambek dan silek anak Nagari Katapiang itu sendiri.
"Dunia boleh berubah, kampung boleh maju dan berkembang. Tetapi yang namanya adat dan budaya tak akan lekang oleh panas dan tak akan lapuk oleh hujan," tegas Rajo Sampono.
Melalui alek nagari inilah, ulas Rajo Sampono, pihaknya ingin seluruh anak muda nagari mampu menghayati apa yang menjadi pantangan dan larangan dalam hidup di tengah masyarakat. Dan apa pula yang mesti dilakukan. Katapiang harus jadi contoh di Kabupaten Padang Pariaman dan Sumatera Barat.
"Kita ingin, Katapiang tidak hanya punya Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Nagarinya juga harus ikut sebagai "nagari internasional". Untuk menujunya, berbagai langkah yang tepat telah kita lalui, termasuk alek nagari ini," sebutnya. (501)
Pemegang ulayat Katapiang, B. Rangkayo Rajo Sampono menyampaikan hal itu, Minggu (1/7) di tengah persiapan alek nagari yang dilakukannya bersama masyarakat Katapiang selama 15 hari ke depan. "Tujuan alek nagari ini, bagaimana nilai-nilai adat dan budaya tersebut kembali menjadi rujukan oleh masyarakat," ungkapnya.
Alek nagari, kata dia, adalah mengkomersilkan nilai budaya itu sendiri. "Minggu malam sebagai pembukaan, namanya "patang manyampai". Artinya, seluruh niniak mamak dalam ulayat Nan Sabaris lama, sejak dari Pauh Kamba, Ulakan, Sunua, Tapakis, Katapiang, Padang Bintungan, Kapalo Koto, semuanya duduk di sini, membicarakan langkah-langkah yang akan ditempuh selama 15 hari alek nagari," ujar dia.
"Jadi, berapa banyaknya huluambek akan naik main, berapa pasang pula tukang silek nantinya, akan diputuskan secara bersama," sebutnya.
Memang, katanya, agenda yang sudah disusun panitia, antara lain huluambek, silek, indang, dan diselingi dengan penampilan orgen tunggal, sebagai hiburan zaman now.
Rajo Sampono menyebutkan, alek nagari yang berlangsung di laga-laga Nagari Katapiang ini merupakan keinginan anak nagari secara bersama. Termasuk juga dukungan dari perantau. Sekaligus, alek nagari ini tentunya akan memperkuat tim huluambek dan silek anak Nagari Katapiang itu sendiri.
"Dunia boleh berubah, kampung boleh maju dan berkembang. Tetapi yang namanya adat dan budaya tak akan lekang oleh panas dan tak akan lapuk oleh hujan," tegas Rajo Sampono.
Melalui alek nagari inilah, ulas Rajo Sampono, pihaknya ingin seluruh anak muda nagari mampu menghayati apa yang menjadi pantangan dan larangan dalam hidup di tengah masyarakat. Dan apa pula yang mesti dilakukan. Katapiang harus jadi contoh di Kabupaten Padang Pariaman dan Sumatera Barat.
"Kita ingin, Katapiang tidak hanya punya Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Nagarinya juga harus ikut sebagai "nagari internasional". Untuk menujunya, berbagai langkah yang tepat telah kita lalui, termasuk alek nagari ini," sebutnya. (501)
Perantau Lubuak Pandan Gelar Sunatan Massal
Lubuak Pandan--Masyarakat Nagari Lubuak Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman terus berbuat yang terbaik di tengah masyarakatnya sendiri. Sabtu (30/6) lalu untuk ke-3 kalinya perantau nagari itu ikut dalam iven sunatan massal, dalam rangka memanfaatkan momen Idul Fitri dan liburan sekolah.
"Alhadulillah, tahun ini ada 35 anak yang ikut disunat dari aksi yang melibatkan perantau Lubuak Pandan ini," kata Walinagari Lubuak Pandan, Budiman pada Singgalang. Menurut dia, sunatan massal selalu diadakan tiap tahun. Awalnya, merupakan inisiatif pemuda nagari yang sudah berlangsung lima tahun. Barulah tiga tahun terakhir mengikut-sertakan perantai Lubuak Pandan.
Mungkin karena persiapan kurang matang, katanya, sehingga jumlah anak yang ikut tak sebanyak tahun lalu. Sebelum ini, jumlah anak mencapai 76 orang. Dan lagi, Lubuak Pandan jadi tuan rumah MTQ ke-46 tingkat Padang Pariaman, yang akan digelar pekan depan. Namun, apa yang telah menjadi agenda rutin telah terlaksana dengan baik.
Wabup Suhatri Bur Datuak Putiah yang hadir dalam acara itu memberikan apresiasi atas terlasananya acara perpaduan antara ranah dan rantau. "Pemkab Padang Pariaman sangat apresiasi atas kegiatan ini. Bagaimana sunatan massal selalu berkelanjutan tiap tahunnya. Di sinilah terlihatnya hubungan silaturahmi, komunikasi yang baik antara ranah dan rantau selalu kompak. Barek sapikue ringan sajinjiang," ungkapnya.
Menurut Suhatri Bur, masyarakat Lubuak Pandan harus menyukseskan MTQ yang akan digelar pekan depan. "MTQ yang akan dilaksanakan di Kecamatan 2×11 Enam Lingkungan bagaimana persiapannya dapat dilaksanakan dengan semaksimal mungkin, dan tentunya sukses pula bagi peserta dari kecamatan ini sebagai tuan rumahnya," ulas Suhatri Bur. (501)
"Alhadulillah, tahun ini ada 35 anak yang ikut disunat dari aksi yang melibatkan perantau Lubuak Pandan ini," kata Walinagari Lubuak Pandan, Budiman pada Singgalang. Menurut dia, sunatan massal selalu diadakan tiap tahun. Awalnya, merupakan inisiatif pemuda nagari yang sudah berlangsung lima tahun. Barulah tiga tahun terakhir mengikut-sertakan perantai Lubuak Pandan.
Mungkin karena persiapan kurang matang, katanya, sehingga jumlah anak yang ikut tak sebanyak tahun lalu. Sebelum ini, jumlah anak mencapai 76 orang. Dan lagi, Lubuak Pandan jadi tuan rumah MTQ ke-46 tingkat Padang Pariaman, yang akan digelar pekan depan. Namun, apa yang telah menjadi agenda rutin telah terlaksana dengan baik.
Wabup Suhatri Bur Datuak Putiah yang hadir dalam acara itu memberikan apresiasi atas terlasananya acara perpaduan antara ranah dan rantau. "Pemkab Padang Pariaman sangat apresiasi atas kegiatan ini. Bagaimana sunatan massal selalu berkelanjutan tiap tahunnya. Di sinilah terlihatnya hubungan silaturahmi, komunikasi yang baik antara ranah dan rantau selalu kompak. Barek sapikue ringan sajinjiang," ungkapnya.
Menurut Suhatri Bur, masyarakat Lubuak Pandan harus menyukseskan MTQ yang akan digelar pekan depan. "MTQ yang akan dilaksanakan di Kecamatan 2×11 Enam Lingkungan bagaimana persiapannya dapat dilaksanakan dengan semaksimal mungkin, dan tentunya sukses pula bagi peserta dari kecamatan ini sebagai tuan rumahnya," ulas Suhatri Bur. (501)
Langganan:
Postingan (Atom)





