Rabu, 08 Februari 2017

Jika Tidak Dipadukan Ilmu Dunia dan Akhirat Secara Seimbang Institusi Pendidikan Hanya Akan Melahirkan Lulusan yang Timpang

Jika Tidak Dipadukan Ilmu Dunia dan Akhirat Secara Seimbang
Institusi Pendidikan Hanya Akan Melahirkan Lulusan yang Timpang

Enam Lingkung--Metode pendidikan pada semua jenjang seharusnya memadukan ilmu pengetahuan untuk dunia dan akhirat secara seimbang. Jika tidak, institusi pendidikan itu hanya akan menghasilkan lulusan yang timpang.
    Kekuatiran itulah yang diantisipasi Pengelola Pondok Pesantren Nurul Yaqin (PPNY) Ringan-ringan, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman. Di lembaga pendidikan ini semua santri memperoleh pembekalan ajaran Islam untuk hidup layak guna menuju akhirat bermartabat.
    Ketua Yayasan Pendidikan Islam Imraniyah (YPII) Idarussalam Tuanku Sutan mengemukakan hal itu, Senin lalu di Parit Malintang. Idarussalam menyebutkan, PPNY yang didirikan ayahnya, Buya H. Ali Imran Hasan, tahun 1960 saat ini memiliki 919 santriwan dan santriwati yang berasal dari seluruh kabupaten/kota di Sumbar, bahkan dari Riau, Jambi dan Bengkulu. Mereka terbagi dalam dua jenjang pendidikan; Madrasah Tsanawiyah (MTs) tiga tahun sebanyak 586 orang dan Madrasah Aliyah (MA) empat tahun 333 orang.
    "PPNY diasuh 32 orang guru dan tenaga administrasi YPII serta 40 guru umum yang berasal dari SMP/SMA dan MTs/MA lain. Mereka mengajar ke PPNY untuk memenuhi tuntutan sertifikasi," ujarnya.
    Untuk mengelola aktivitas sehari-hari, PPNY dipimpin H. Al Muhdil Karim Tuanku Bagindo, anak sulung Buya H. Ali Imran Hasan. Ia dibantu Kepala MA; Zulhamdi Tuanku Karajaan Nan Saliah dan Kepala MTs; Muhammad Rais Tuanku Labai Nan Basa.
    Menurut Idarussalam, PPNY menerapkan sistem pendidikan salafiyah serta memadukan dengan sistem pendidikan umum. Dalam hal ini mereka mengacu pada pola Ahlussunnah Waljamaah. Secara umum pondok pesantren salafiyah diartikan sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama, terdiri dari beberapa unsur, yaitu pengasuh (Kyai, Abuya, Encik, Ajengan, Tuan Guru, atau sebutan lainnya) sebagai figur utama. Sedangkan santri, masjid (tempat ibadah, mushalla) sebagai titik pusat yang menjiwainya.
    Pengelola pondok bertanggungjawab menjadikan para santri dan santriwati memahami dan menghayati ajaran-ajaran Islam (tafaqquh fi al-din) melalui pelajaran al-Quran, al-Hadits serta kitab-kitab kuning dengan metodologi sorogan (individu), bandongan atau wetonan (kolektif), serta mudzakaroh (diskusi). Tujuannya agar tercapai sublimasi antara kecerdasan keilmuan Islam dan kecerdasan transenden (moral etik), baik dalam pandangan Allah Yang Mahaagung maupun pandangan manusia.
    Idarussalam menambahkan, seluruh santriwan mondok pada gedung rumah susun bantuan Kementerian Perumahan Rakyat. Sedangkan santriwati mondok pada komplek utama pondok. Masing-masing dengan pengasuh dan dapur umum. (501) 

Padang Pariaman Siap Menggelar PPMD VI Tingkat Sumbar

Padang Pariaman Siap Menggelar PPMD VI Tingkat Sumbar

Padang Pariaman--Rapat bertujuan untuk menyukseskan kegiatan PPMD VI tahun 2017 tingkat Provinsi Sumatera Barat yang akan diselenggarakan Maret mendatang.
    Hal tersebut ditegaskan Ketua Perkemahan Pramuka Madrasah Daerah (PPMD) VI tahun 2017 tingkat Provisinsi Sumatera Barat yang juga Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Madrasah, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Padang Pariaman, H. Yurdinal ketika membuka secara resmi Rapat Persiapan (Raper) PPMD VI tahun 2017, Rabu (8/2) di Aula FKUB Kemenag Padang Pariaman.
    "Kita wajib menyukseskan PPMD ini," tukasnya. Menurut Yurdinal, PPMD VI tahun 2017 bertujuan menyatukan pramuka sebagai gerakan kepemudaan mulia dengan nilai-nilai keislaman yang ditanamkan di madrasah yang akan diselenggarakan pada tanggal 2-5 Maret 2017 di Bumi Perkemahan INS Kayutanam, Kecamatan 2x11 Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman.
    Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana PPMD ke-6 tahun 2017 tingkat Provinsi Sumatera Barat, Yulfaheri mengatakan, tujuan rapat persiapan untuk memantapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan PPMD VI tahun 2017.
    "Insya Allah, PPMD VI tahun 2017 tingkat Provinsi Sumatera Barat akan dibuka oleh Gubernur Sumbar yang akan disambut dengan tari galombang dan tambue tassa serta sirene. Selain itu, PPMD tersebut akan dihadiri oleh Bupati Padang Pariaman, Kepala SKPD, Forkompimda Padang Pariaman serta seluruh unsur yang terkait dengan kepramukaan," terangnya.
    Menurut Yulfa, untuk tingkat Madrasah Aliyah, lomba yang akan dikompetisikan yaitu Lomba Pentas Seni Tari Kreasi Tematik Islam, Lomba Upacara Bendera, Lomba Pionering Rumah adat Minangkabau, Lomba Scoting Skill, Lomba P3K, Lomba Film Pendek, Lomba bercerita dengan Bahasa Inggris tentang jasa Pahlawan Islam Indonesia.
    Sedangkan lomba untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah meliputi Lomba PBB dan yel-yel, Lomba Scoting Skill, Lomba P3K dan Lingkungan. "Mari kita bersama melaksanakan hasil keputusan rapat ini semoga PPMD ke-6 tahun 2017 ini dapat berjalan lancar, aman dan sesuai rencana," ujarnya. (501)

Kamis, 02 Februari 2017

Pasar Lubuk Alung Segera Dibenahi dan Dikembalikan Keasalnya

Ketua KAN Suharman Datuak Pado Basa
Pasar Lubuk Alung Segera Dibenahi dan Dikembalikan Keasalnya

Lubuk Alung--Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lubuk Alung, Padang Pariaman, Suharman Datuak Pado Basa melihat semrautnya pasar Lubuk Alung, lantaran adanya kesalahan saat penetapan seorang kepala pasar dulunya, yang dilakukan oleh walinagari setempat, tanpa adanya rekomendasi dari niniak mamak, selaku pihak yang berkopenten dalam pasar demikian.
    "Memang, dengan kondisi yang ada saat ini pasar Lubuk Alung sepenuhnya menjadi tanggungjawab kepala pasar. Kita cukup banyak menerima keluhan dan masukan dari berbagai pihak, tentang kondisi pasar yang terkesan tidak dibereskan dengan baik dan benar itu. Padahal, semua pengguna pasar, seperti pedagang yang selalu membayar kewajibannya terhadap pasar. Sementara, kebersihan pasarpun tidak datur dengan sedemikian rupa," kata dia pada Singgalang, Minggu (14/8) di Lubuk Alung.
    Datuak Pado Basa menilai, sudah saatya pasar yang terkesan centang parenang itu dibenahi. Saluran air harus ada. Sampah tidak boleh lagi dibiarkan berlama-lama. Sebab, disamping mengundang bau yang tak sedap, juga akan mendatangkan penyakit bagi masyarakat yang tinggal dilingkungan pasar itu sendiri. "Kita merasa prihatin, ketika musim hujan, suasana dalam pasar bagaikan kubangan kerbau, akibat tidak adanya saluran air yang pas untuk pembuangan air. Kondisi ini pula yang akhir-akhir ini binatang melata, seperti ular misalnya mulai keluar dari dalam pasar itu sendiri," kata Datuak Pado Basa.
    Menurut dia, pada 1992 silam pasar Lubuk Alung ini pernah juara tingkat Sumatra Barat dibidang kebersihan pasar. "Saat itu, saya disamping Ketua KAN, juga menjabat sebagai Ketua Komisi pasar Lubuk Alung. Setelah itu, hingga kini tidak ada lagi Lubuk Alung meraih prestasi apapun. Agaknya, untuk mengembalikan kejayaan Lubuk Alung dimaksud, semua ketentuan yang berlaku dulunya, harus dikembalikan keasalnya," tegas Datuak Pado Basa.
    "Dengan prestasi itu pula, Bupati Padang Pariaman Nasrul Syahrun kala itu mau meminjamkan mobil untuk mengangkut sampah yang ada di pasar. Sangat disayangkan, mobil tersebut tidak terawat dengan baik, sehingga penanganan sampah juga menjadi terkendala. Sehabis lebaran ini, semua itu harus dibenahi kembali. Termasuk juga soal manajemen pasarnya," sebutnya.
    Katanya lagi, semua niniak mamak Lubuk Alung, terutama yang tergabung didalam kepengurusan KAN telah mengambil keputusan, bahwa sehabis lebaran, pasar Lubuk Alung harus kembali seperti sedia kala, yakni pasarnya  niniak mamak. Artinya, siapapun yang akan menjadi kepala pasar itu nantinya, harus ada rekomendasi dari KAN, selaku pihak yang punya otoritas dalam masalah demikian. (dam)
--------------------------------------------------------------------

Surau Gadang Mudiak Padang yang Terlupakan

Tandikek--Bagi masyarakat Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman kebesaran Surau Gadang Mudiak Padang, tidak bisa dilupakan begitu saja. Meskipun bangunan tua tersebut telah mengalami kerusakan sejak gempa dan longsor 2009 lalu, dan hingga kini masih belum diperbaik, tetap saja masjid nagari itu menjadi idaman setiap malamnya dalam menyemarakkan suasan Ramadhan.
    Seperti diketahui, Masjid Raya Mudiak Padang, nama lain dari Surau Gadang demikian, dibangun sejak 1718 M. Masjid itu punya sejarah yang tinggi, dibangun diatas tanah yang mempunyai lokasi empat korong, yakni Korog Pulau Aie, Lubuk Aro, Lareh Nan Panjang dan Korong Galoro. Dan setiap kali kegiatan dilakukan dalam masjid tersebut, semua komponen yang ada dalam empat korong itu harus hadir. Kalau seandainya kurang kehadiran masyarakat demikian, maka keputusan tidak dapat ditetapkan.
    Menurut Rivai Marlaut, semua masyarakat, terutama perempuan lanjut usia, pada umumnya lebih memilih Surau Gadang itu untuk Shalat Tarwih. Bahkan, sejak awal Ramadhan, banyak kaum perempuan itu yang tinggal dalam masjid tersebut, lantaran melaksanakan shalat berjamaah selama 40 hari. Mereka merasa senang, dan nyaman di masjid yang dibangun dengan swadaya dulunya itu.
    "Kita ingin, masjid yang punya nilai sejarah panjang itu direhab, namun tetap memakai ciri khasnya. Apalagi, masjid itu termasuk cagar budaya, yang mesti dilestarikan dengan baik dan benar. Kalau kita lihat kayu yang dipakai untuk bangunan masjid tersebut, tidak satupun yang disambung. Artinya, semuanya pas, baik kayu yang digunakan untuk meletakkan seng, maupun kayu besar yang dipakai untuk tonggak macu didalam masjid. Aneh tapi nyata. Itulah kesan, kalau kita lihat dari dekat," kata Rivai pada Singgalang, Minggu (14/8) di Tandikek.
    Disamping masjid, kata Rivai, sebagai bangunan tua yang menjadi aset nagari, dalam masjid itu juga tersimpan dengan baik sebuah meriam peninggalan VOC. Meriam tersebut dibunyikan dua kali dalam setahun. Pertama, ketika mau akan melaksanakan puasa, dan terakhir saat melepas puasa, atau saat merayakan Idul Fitri. Meriam itu berbunyi, setelah meriam yang ada di Ambung Kapur, Kenagarian Sungai Sariak berbunyi. Itulah tradisi lama, yang diikuti hingga saat ini.
    "Fungsi meriam adalah sebagai media ditengah masyarakat, untuk memberitahukan bahwa besok harus puasa atau besok harus Shalat Idul Fitri. Bagi masyarakat yang tinggal dipuncak bukit yang paling ujung Nagari Tandikek sekalipun, tidak punya alasan untuk tidak berpuasa. Sebab, mereka mendengar langsung berita itu, lewat bunyian meriam," ungkap mantan Walikorong Pulau Aie itu.
    Rivai Marlaut melihat sejak dulu hingga kini, belum ada terputus Shalat Tarwih di masjid tersebut. Nah, ini artinya kecintaan masyarakat terhadap berkah dari peninggalan yang tua-tua dulunya, masih sangat tinggi. "Untuk itu, hendaknya Pemkab Padang Pariaman bisa melihat hal itu sebagai sebuah aset yang mesti disemarakkan terus. Ya, tentunya masjid itu butuh renovasi dan rehabilitasi, dengan kekuatan dana yang tidak sedikit. Kita selaku masyarakat, bersama dengan semua komponen masyarakat yang tergabung dalam empat korong tersebut telah berupaya semaksimal mungkin, menemui semua yang patut ditemui, untuk kembali membangun masjid tersebut. Namun, upaya demikian belum membuahkan hasil," ujarnya. (dam)

Kepala Kemenag Padang Pariaman Helmi Inginkan Jajarannya Disiplin dalam Bekerja

Kepala Kemenag Padang Pariaman Helmi Inginkan Jajarannya Disiplin dalam Bekerja

Padang Pariaman--Suasana haru terlihat nyata dalam acara pisah-sambut Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kabupaten Padang Pariaman. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Saiyo Sakato, Kamis (2/2), merupakan iven menyambut H. Helmi sekaligus melepas H. Masrican Tk Marajobasa.
    Acara yang dilaksanakan seluruh jajaran Kankemenag Padang Pariaman itu dihadiri Bupati Ali Mukhni dan Kakanwil Kemenag Sumbar diwakili Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, H. Artis Arjun.
    Bupati Ali Mukhni mengucapkan selamat datang kepada Kakan Kemenag yang baru, Helmi, dan mengucapkan terima kasih kepada pejabat lama, Masrican, yang memasuki masa pensiun terhitung mulai tanggal 1 Januari 2017. Selanjutnya, selama 22 hari, Kakan Kemenag dijabat Pelaksana Tugas H. Syamsuir.
    Helmi yang sebelumnya menjabat Pelaksana Tugas Kakan Kemenag Kota Pariaman dilantik oleh Kakanwil Kemenag Sumbar, H. Salman K Memed, Senin 23 Januari 2017. Ustadz usia muda kelahiran 1 Maret 1970 ini saat ini sedang menyelesaikan disertasi Program Doktor (S.3) pada IAIN Imam Bonjol – Padang.
    Helmi dan isteri bersama Staf Kankemenag Kota Pariaman usai pelantikan 23 Januari lalu. Usai acara pisah-sambut, Helmi meminta dukungan semua pihak untuk kelancaran tugas-tugas di Kemenag Padang Pariaman. "Terutama dukungan rekan-rekan wartawan," cetusnya.
    Kemenag Padang Pariaman, lanjut dia, membawahi 17 Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan serta puluhan Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Sedangkan di Kantor Kemenag sendiri ia dibantu oleh Kasubbag Tata Usaha, H. Syafrizal Tk. Sidi Sati, Kepala Seksi (Kasi) Penmad; H. Yurdinal, Kasi Bimais; Epi Mayardi, Kasi PAI; Suhendiral, Kasi PHU; Syaiful Azhar, Kasi PD dan Pontren; Irsyad dan Penyelenggara Syariah; Masrijal Habib.
    Sebelumnya, kata Helmi, ia telah menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) awal tahun, Kamis (26/1), bertempat di Gedung Pertemuan Kankemenag, Kiambang, Nagari Lubuk Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung. Dalam rakor itu semua kepala seksi memaparkan program kerja masing-masing.
    "Pada kesempatan itu saya meminta semua kepala seksi agar menyisosialisasikan hasil dari rakor yang dilaksanakan pada satuan kerja masing-masing. Mari kita bekerjasama dan sama-sama bekerja, buka lembaran baru untuk hari esok yang lebih baik demi kemajuan instansi Kementerian Agama yang sangat kita cintai ini," tutur Helmi.
    Ia juga mengatakan, program 100 hari awal kepemimpinanya sebagai Kakankemenag memprioritaskan disiplin, baik itu di lingkungan Kankemenag maupun di KUA dan madrasah. (501)

Paradigma Baru Lewat Sippadu Diterapkan di DPMPTP Padang Pariaman

Paradigma Baru Lewat Sippadu Diterapkan di DPMPTP Padang Pariaman

Padang Pariaman--Mengawali tahun 2017, Pemkab Padang Pariaman memiliki paradigma baru dalam pelayanan publik, khususnya pada Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu dan Perindustrian (DPMPTP). Pelayanan berbasis elektronik yaitu menerapkan Sistim Informasi Pelayanan Perizinan Terpadu (Sippadu) yang akan diluncurkan dalam waktu dekat.
    Sippadu ini merupakan aplikasi pelayanan perizinan yang direkomendasikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sudah dilakukan Nota Kesepahaman dengan Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni di Sidoarjo, Jawa Timur pada November 2016 yang lalu.
    "Insya Allah, saat ini sedang persiapan Sippadu baik aplikasi maupun SOP-nya. Jadi kita komit beri pelayanan yang transparan, profesional dan anti pungutan liar," kata Kadis PMPTP Hendra Aswara, Rabu (1/2) lalu.
    Saat ini, kata Hendra, dinasnya sedang mengkaji beberapa izin yang bisa selesai dalam satu hari atau hitungan jam. Antara lain pengurusan izin Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK). Dengan catatan, apabila persyaratan lengkap dan pejabat yang menandatangani berada di tempat.
    "Untuk izin yang tidak perlu cek lapangan seperti TDP, SIUP dan SIUJK, kita terapkan One Day Service. Bila perlu sejam selesai. Ketiga izin itu pun gratis. Apabila syarat lengkap dan pejabat berada di tempat," kata Hendra.
    Untuk pelayanan perizinan, Hendra akan membentuk tim teknis lintas sektoral dalam proses pelayanan. Tim teknis tersebut ditetapkan melalui SK Bupati yang bertugas sesuai kemampuan bidang masing-masing.
    "Kita berkolaborasi dengan satuan organisasi perangkat daerah (SOPD) teknis, untuk rekomendasi pelayanan perizinan," kata Mantan Kabag Humas itu.
    Ditambahkannya, sesuai dengan Peraturan Bupati Padang Pariaman Nomor 21 Tahun 2006, terdapat 90 jenis perizinan yang dikelola SOPD. Namun belum semua perizinan yang dikelola dengan sistem PTSP (pelayanan terpadu satu pintu). Namun  tahun ini ditargetkan seluruh pelayanan sudah ditangani secara PTSP.
    "Masih ada puluhan perizinan yang dikelola di beberapa SOPD seperi Dinas Kesehatan, Dinas Pariwisata dan lainnya," ujar dia.
    Terkait pencegahan pungutan liar (pungli) dalam pengurusan perizinan, Hendra berjanji akan memberikan sanksi tegas untuk pelaku atau oknum yang meresahkan masyarakat. (501)

Masyarakat Nagari Sintuak Antusias Menanam Manggis

Masyarakat Nagari Sintuak Antusias Menanam Manggis  

Sintuak--Masyarakat Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman menyambut antusias program penanaman bibit manggis yang digagas oleh walinagarinya. Hingga kini sudah hampir 50 persen bibit yang disediakan nagari itu diberikan kepada warga yang sudah menyediakan lubangnya. Ditargetkan pertengahan Februari ini tuntas.
    Ketua Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Nagari Walinagari Sintuak yang menjalankan program bibit manggis ini, Zeki Aliwardana, Kamis (2/2) menyebutkan, setiap warga yang ingin mendapatkan bibit manggis mendaftarkan jumlah lobang yang akan ditanam bibit manggis ke kantor Walinagari. Lobang yang dilaporkan selanjutnya disurvey. Apakah jumlah lobang yang dilaporkan benar, sesuai dengan ukuran yang sudah ditetapkan.
    Menurut Zeki Aliwardana, setelah disurvey dan bibit manggis diantarkan ke petani dan lokasi penanaman, ternyata masyarakat semakin antusias untuk menanam. "Semula sebagian masyarakat beranggapan program ini kurang serius. Mereka sebelum mendapatkan informasi yang kurang lengkap. Sehingga kurang serius menggali lobang bibit manggis. Setelah kami turun langsung ke lapangan, mereka pun yakin dengan program ini," kata Zeki.
    Dari 10.000 bibit manggis yang sudah disediakan, kata Zeki, ternyata permintaan masyarakat jauh melampaui target bibit yang disediakan. Masih banyak warga yang belum menggali lobang di lahannya sehingga tidak bisa diberikan bibit. Selain itu, masih ada lahan kosong milik warga yang siap ditanami manggis. Dari kalkulasi sementara, bisa mencapai 15.000 bibit manggis yang dibutuhkan.
    Dengan meningkatnya permintaan tersebut, kemungkinan akan ditambah sebanyak  5.000 bibit manggis lagi. Kemungkinan ada penambahan bibit tahun 2017 ini, tentu melalui pembahasan bersama Bamus. "Pengadaan bibit manggis ini merupakan penguatan ekonomi masyarakat dengan penanam manggis. Mudah-mudahan nanti manggis ini menjadi pohon duit (uang) bagi masyarakat Nagari Sintuak," kata Zeki Aliwardana.
    Penyerahan bibit manggis ini sudah dilakukan Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur kepada kelompok tani manggis Nagari Sintuak dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, di Korong Rimbo Karanggo, Selasa lalu. Penyerahan disaksikan Dandim 0308 Pariaman Letkol. Endro, Anggota DPRD Padang Pariaman Fraksi PKB Hasan Basri, Camat Sungai Limau Defriatos (sebelumnya Camat Sintoga), Camat Sintoga Elda Husniwar, Walinagari Sintuak Anasril Nazar, para walikorong di Sintuak dan perwakilan petani penerima bibit manggis. (501) 

Rabu, 01 Februari 2017

Tak Punya Rumah Dua Anak Asnimar Mengalami Gizi Buruk

Tak Punya Rumah Dua Anak Asnimar Mengalami Gizi Buruk

VII Koto--Kalau adalah program bedah rumah untuk Asnimar dari pemerintah, mungkin tidak berlaku. Apa yang mau dibedah. Rumah dia itu benar yang tidak ada. Ibu muda kelahiran 1981 ini terasa sudah lengkap penderitaannya. Punya anak tujuh, ditinggal suaminya yang sudah meninggal dunia sejak dua tahun yang lalu.
    Kini, Asnimar yang sehari-hari bekerja sebagai pencari barang bekas itu tinggal di pondok darurat yang dindingnya dia beri plastik jemuran padi bekas. Alasnya jangan tanya. Hanya papan buruk seadanya. Tanah lokasi yang dia huni sekarang memang milik nenek moyangnya di Duku Banyak, Nagari Balah Air, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman.
    "Sudah empat bulan ini kami tinggal beranak di sini. Ya, bisa dibayangkan, kalau hujan turun. Dinginnya minta ampun. Apalagi, hujan itu turunnya disertai angin kencang pula," kata dia, saat di datangi sejumlah wartawan, Rabu kemarin.
    Dua dari tujuh orang putra-putrinya itu mengalami gizi buruk pula, dan pernah dirawat di rumah sakit umum. Siang, menjelang sore Rabu kemarin itu, Asnimar tengah menanak nasi. Tapi tidak dalam periuk dia menanak. Hanya dalam kuali kecil. Terkesan, nasi yang dia tanak itu adalah nasi bekas semalam yang dihangatkan kembali untuk dimakan oleh anak-anaknya.
    Yang namanya anak banyak, ya tentu banyak pula ulahnya. Anak yang paling besar baru berusia delapan tahun. Tiga orang anak yang telah sekolah, itupun di SD Luar Biasa di Balai Baru, Ibu Nagari Balah Air. Dia sendiri yang mengantarkannya anak itu sekolah dengan mengayuh becak yang juga digunakannya untuk mencari barang bekas.
    Ada rumah milik orangtuanya, tak jauh dari tanah yang dia diaminya itu, tapi Asnimar merasa tak betah. Dia mengaku banyak pula beradik kakak yang telah berkembang biak pula. "Kalau tinggal juga di rumah amak, harus bersempit-sempit. Saudara awak itu banyak pula anaknya," kata dia.
    "Jadi, awak lebih memilih tinggal di pondok yang awak buat sendiri ini," ujarnya. Kalau Asnimar mulai bekerja beraktivitas berkeliling kampung, mengumpulkan barang bekas, pondoknya itu dia tanggalkan pula dindingnya. Kalau dia pulang sore, maka mulai dia memasang lagi, agar bisa tidur malamnya.
    Asnimar mengaku sedih, sejak ditinggal suaminya Marlis yang telah meninggal dunia. "Dulu, suami awak kerjanya tukang jahit dan bisa mengontrak rumah untuk tempat tinggal. Sekarang, apa yang hendak dikata. Biduk ini awak kayuh surang. Anak-anak masih kecil, yang tahunya hanya merengek kalau lagi lapar minta makan," ungkapnya.
    Sebagai orang miskin dan hidup susah, Asnimar tak pula menapik kalau dia pernah dibantu Walinagari Balah Air berupa uang Rp500 ribu. Soal rumah tempat tinggal, memang dia kadang-kadang dibenci oleh orang kampung itu, karena tak punya kemampuan untuk membuat rumah.
    Menjelang awak media meninggalkan kediamanya, Asnimar tampak mulai memasang alat kelengkapan untuk dia dan anak-anaknya berteduh di malam hari. Tumpukan bahan plastik yang dicarinya kemarin masih berserakan di sebuah sudut. Dia mengaku, dari hasil penjualan plastik itu mendapatkan uang Rp40 ribu sehari.
    Dari uang sebanyak itu dia hidup bersama tujuh orang putra-putrinya yang masih kecil. Ingin dia punya rumah kayak orang kebanyakan, namun tak kuasa untuk itu. Kadang ada temannya yang merasa iba melihat nasihnya, maka diberilah dia tumpangan tempat tinggal barang sehari atau dua harinya. (501)